MerahPutih.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi kenaikan harga barang berbahan plastik yang terjadi belakangan ini. Lonjakan harga tersebut dikeluhkan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil.
Pramono mengungkapkan, kenaikan harga plastik dipengaruhi faktor global yang berada di luar kendali pemerintah daerah. Di tengah kondisi tersebut, Pemprov DKI mendorong langkah adaptif, termasuk mencari alternatif pengganti plastik dalam aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, penggunaan plastik memang perlu dikurangi secara bertahap, seiring dengan upaya menjaga lingkungan sekaligus merespons kenaikan harga yang berpotensi membebani masyarakat.
"Tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya," ucap Pramono di Pulo Gebang, Jakarta Timur, Minggu (12/4).
Pramono pun menyarankan masyarakat untuk kembali memanfaatkan bahan tradisional yang lebih ramah lingkungan, seperti daun pisang untuk kemasan makanan. Ia menilai, cara tersebut bukan hanya relevan dari sisi budaya, tetapi juga dapat menjadi alternatif praktis di tengah mahalnya harga plastik.
"Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya," imbuhnya.
Baca juga:
Gejolak Global Picu Kenaikan Harga Plastik, Pemerintah Segera Cari Solusinya
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat lonjakan harga plastik kemasan yang mencapai 30 hingga 40 persen dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini berdampak langsung terhadap pelaku usaha, terutama di sektor makanan dan minuman.
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, mengatakan plastik masih menjadi kebutuhan operasional utama yang belum mudah digantikan dalam waktu singkat.
Dari hasil pemantauan di lapangan, kenaikan harga mulai terjadi sejak akhir Maret 2026 dan terus berlanjut hingga awal April. Kondisi ini disebut sebagai dampak dinamika geopolitik global antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
"Berdasarkan pemantauan dan temuan kami di lapangan, kenaikan harga plastik ini terjadi sejak akhir Maret 2026 bersamaan dengan pecahnya konflik geopolitik di Iran, dan berlanjut hingga awal April 2026 ini," kata Ratu dalam keterangannya.
Secara rinci, kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis plastik. Kantong kresek tercatat naik sekitar 40 persen menjadi Rp 17.000 per pak, sementara plastik kemasan jenis PET naik sekitar 35 persen menjadi Rp 22.000 per pak. Adapun plastik jenis PE mengalami kenaikan rata-rata 30 persen menjadi Rp 21.000 per pak.
Kenaikan tertinggi tercatat di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sementara beberapa wilayah lain relatif lebih stabil.
"Kenaikan ini terjadi cukup cepat dan dalam beberapa kasus bersifat fluktuatif mengikuti distribusi barang," ungkap Ratu.
Baca juga:
Harga Plastik di Jakarta Naik hingga 40 Persen, Pelaku UMKM Kena Imbasnya
Pemprov DKI menilai lonjakan harga ini tidak lepas dari ketergantungan industri plastik nasional terhadap bahan baku impor. Saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan bahan baku plastik masih dipenuhi dari luar negeri.
"Dapat kami sampaikan bahwa kenaikan harga plastik ini lebih disebabkan struktur industri plastik global yang masih sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah," jelasnya.
Kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, menjadi pemasok utama bahan baku petrokimia yang digunakan untuk produksi plastik. Gangguan di wilayah tersebut, termasuk penutupan jalur distribusi strategis, berdampak langsung pada pasokan global.
Plastik yang digunakan sehari-hari oleh pelaku usaha, seperti kantong plastik, gelas minuman, hingga botol kemasan, berasal dari turunan bahan baku tersebut. (Asp)