MerahPutih.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, buka suara soal harga LPG nonsubsidi 5 kg dan LPG 12 kg yang naik.
Ia mengatakan kenaikan ini mengikuti harga pasar. Sementara untuk LPG subsidi 3 kg, harganya tidak naik.
Hal itu dikarenakan pemerintah memberikan subsidi untuk LPG 3 kg, sehingga harganya diatur oleh pemerintah.
"Yang tidak bersubsidi itu dipakai oleh industri, restoran, hotel. Jadi itu memang tidak kita atur harganya, jadi menyesuaikan dengan harga pasar, begitu bos," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4).
Baca juga:
Stok LPG di Jateng Aman, Ahmad Luthfi Tegaskan Distribusi Subsidi Harus Tepat Sasaran
Bahlil juga menegaskan, bahwa stok LPG nasional masih berada di atas standar nasional, yakni melebihi 10 hari.
"Laporan dari kami standar minimum di atas 10 hari kok, di atas standar minimum nasional, aman," tutur Bahlil.
Bahlil menambahkan, harga LPG nonsubsidi ini akan bergerak mengikuti harga pasar. Jika harga di pasar dunia turun, maka harga LPG nonsubsidi di Indonesia dipastikan juga bakal turun.
"Pasti (turun). Jadi kan ada formulasinya. Dulunya itu kan pakai harga Saudi Aramco. Jadi kalau harga dunia turun, dia pasti turun juga. Kalau harga dunia naik, ya naik," terangnya.
Baca juga:
Harga BBM Nonsubsidi Naik, DPR Ingatkan Ancaman ke Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat
Ia menekankan, negara tetap hadir untuk seluruh lapisan masyarakat, namun memiliki prioritas dalam penyaluran subsidi. Dalam konteks ini, LPG subsidi 3 kg ditujukan khusus bagi masyarakat kurang mampu.
“Negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya adalah saudara-saudara kita yang tidak mampu,” kata Bahlil.
Bahlil memastikan, harga LPG subsidi 3 kg tidak akan mengalami kenaikan. Kepastian tersebut, kata Bahlil, merupakan arahan langsung dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kalau yang subsidi tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden,” tegasnya.
Baca juga:
Bahlil Pastikan Stok LPG Aman di Tengah Konflik Timur Tengah, Dapat Pasokan dari AS dan Australia
Ia juga menyinggung praktik penggunaan LPG subsidi oleh kelompok mampu yang dinilai tidak tepat sasaran. Ia menilai, subsidi energi harus benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak.
“Masa orang dengan pendapatan di atas Rp500 juta per bulan disuruh pakai LPG 3 kilo?,” ujarnya. (knu)