MerahPutih.com - Kepercayaan publik terhadap efektivitas kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam upaya pemberantasan korupsi di tanah air hanya mencapai 52 persen dari total responden. Artinya ada 48 persen responden yang menganggap Jokowi masih gagal dalam perang melawan korupsi.
Capaian itu terungkap dalam rilis hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bertajuk Tren Persepsi Publik tentang Korupsi di Indonesia. Angka persepsi publik kepada Jokowi itu masih di bawah dari pengakuan publik terhadap kinerja KPK yang mencapai 81 persen.
"KPK paling banyak dikenal sebagai lembaga yang melakukan langkah-langkah pemberantasan korupsi dan paling banyak dinilai efektif dalam melakukannya dari yang mengetahuinya. Lembaga-lembaga lain sudah mulai diketahui upayanya untuk mengatasi korupsi meski belum sangat luas warga yang tahu," kata Peneliti Senior LSI, Burhanuddin Muhtadi, dalam pemaparan hasil survei di Hotel Akmani, Jakarta, Senin (10/12).
Survei LSI ini melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak. Bahkan, survei yang sama menunjukkan mayoritas masyarakat masih menilai tingkat korupsi di Indonesia mengalami peningkatan.
Sebanyak 52 persen responden menilai korupsi mengalami peningkatan. Sebanyak 21 persen responden menilai tingkat korupsi menurun, 24 persen responden menilai tidak mengalami perubahan. "Saat ini mayoritas warga menilai bahwa tingkat korupsi mengalami peningkatan," kata Burhanuddin.
Meski begitu, kata Burhanuddin, dibanding dengan tren korupsi dalam dua tahun terakhir, persepsi terhadap korupsi mengalami penurunan. "Dari 70 persen pada 2016 menjadi 52 persen pada tahun ini," tandas dia. (Pon)