MerahPutih.com – Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, menyoroti rencana penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Dia menilai kebijakan tersebut berpotensi mereduksi fungsi pendidikan tinggi menjadi sekadar lembaga pelatihan kerja.
“Secara filosofis, universitas adalah studium generale, tempat pencarian kebenaran dan pengembangan peradaban,” kata Habib Syarief, dalam keterangannya kepada media, di Jakarta, Selasa (5/5).
Baca juga:
DPR Ingatkan Pemerintah tak Gegabah Tutup Prodi, Harus Ada Kajian Mendalam
Risiko Bunuh Diri Intelektual
Menurutnya, jika kebijakan hanya berpijak pada kebutuhan industri saat ini, pemerintah berisiko melakukan kesalahan fatal dalam memprediksi kebutuhan masa depan.
“Menutup prodi secara prematur adalah bentuk bunuh diri intelektual yang mengancam keragaman epistemologis bangsa,” tuturnya
Habib menekankan sebuah prodi bukan sekadar unit administratif, melainkan ekosistem pemikiran. Penutupan prodi berarti memutus tradisi keilmuan, menghapus ribuan jam penelitian, dan menghilangkan spesialisasi unik yang mungkin sangat penting di masa depan.
Baca juga:
Rencana Penutupan Prodi, BRIN Tegaskan Pentingnya Transformasi Kurikulum
Pentingnya Kebebasan Akademik
Dalam era trans-disiplin saat ini, Habib mengingatkan prodi yang dianggap marginal justru sering menjadi kunci dalam memecahkan masalah kompleks melalui kolaborasi lintas ilmu.
Habib menegaskan dukungannya terhadap civitas akademika yang terancam bukanlah dukungan emosional, melainkan dukungan terhadap integritas institusional.
“Esensi pendidikan adalah menjaga nyala api pengetahuan, bukan sekadar mengikuti arah angin industri. Kita harus berdiri tegak untuk melindungi keberagaman disiplin ilmu sebagai aset kedaulatan berpikir bangsa,” pungkasnya. (Pon)