Gubernur Jawa Timur, Soekarwo meminta orasi yang dilakukan para buruh pada peringatan Hari Buruh Internasional (1/5) di seluruh daerah tidak dengan cara menghujat siapa pun.
"Silakan berorasi, tapi harus yang santun dan jangan menghujat, kasihan istri dan anaknya," kata Soekarwo di sela pertemuan dengan para pimpinan asosiasi pekerja/buruh, di Gedung Negara Grahadi, di Surabaya, Minggu (30/4).
Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut berharap unjuk rasa dilaksanakan dengan cara damai, termasuk tidak membuat kemacetan di jalan dengan cara menaati apa yang diinstruksikan polisi selama berada di jalan.
Sebagai wakil pemerintah pusat di provinsi, Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, berjanji akan memfasilitasi termasuk menyampaikan aspirasi yang disampaikan buruh ke pusat.
"Pokoknya, terhadap berbagai hal yang masih dianggap permasalahan oleh asosiasi buruh, hendaknya dirumuskan dan dikonsepkan dengan baik untuk selanjutnya disampaikan ke Kementerian Tenaga Kerja," katanya.
Gubernur Jatim, didampingi Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin, menyatakan akan memberikan kanalisasi aspirasi para pekerja berupa surat rekomendasi ke pemerintah pusat terkait ketenagakerjaan sesuai harapan 35 asosiasi pekerja di Jatim.
Menurut dia, penyampaian aspirasi dan pendampingan ke Jakarta dilakukan karena pihaknya tak bisa melakukan diskresi, dan hal itu hanya dapat dilakukan pihak yang memiliki kewenangan.
"Jadi, terkait ketenagakerjaan, diskresi dapat dilakukan oleh kementerian tenaga kerja, bukan gubernur, seperti kasus jalan rusak dulu yang merupakan kewenangan Kementerian PU-PR sehingga di provinsi tak bisa melakukan apa-apa," katanya.
Pada puncak Hari Buruh Internasional di Surabaya, Pemprov Jatim menyediakan panggung raksasa yang berdiri di depan kantor gubernur Jatim di Jalan Pahlawan Surabaya.
Puluhan ribu pengunjuk rasa juga akan ditemui langsung oleh Pakde Karwo beserta pejabat Forkopimda Jatim, termasuk dilakukan doa bersama dan pemotongan nasi tumpeng sebagai wujud syukur atas Hari Buruh tersebut.
Sumber: ANTARA

