MerahPutih.com - Bola resmi Piala Dunia 2026, Adidas Trionda, dihargai sekitar 130 poundsterling (Rp 3 juta). Namun, pekerjanya dikabarkan hanya mendapat upah 26 poundsterling (Rp 613 ribu) per minggu.
Para petinggi sepak bola telah menghasilkan jutaan poundsterling dari Adidas Trionda, sementara para pekerja produksi di Pakistan berjuang untuk memberi makan keluarganya.
Para aktivis menyerukan agar mereka dibayar cukup dan "hidup bermartabat."
Adidas Trionda merupakan bola turnamen resmi termahal yang diproduksi hingga saat ini. Bola tersebut menghasilkan kekayaan bagi raksasa olahraga dan para petinggi sepak bola.
Baca juga:
Mengenal 'Trionda', Bola Resmi Piala Dunia 2026 yang Dibalut Teknologi AI
Pekerja Adidas Trionda di Pakistan Cuma Digaji Rp 2,4 Juta
Sayangnya, bola yang dihiasi dengan warna-warna bendera negara tuan rumah, AS, Kanada, dan Meksiko itu, diproduksi dengan harga yang jauh lebih murah.
Produsen Forward Group membayar sebagian pekerja lini produksinya di Sialkot, wilayah Punjab, dengan upah minimum 40.000 Rupee Pakistan (Rp 2.493.000) per bulan.
Aktivis Anna Bryher, yang memimpin kebijakan untuk kelompok Labour Behind the Label mengatakan: “Fakta bahwa bola-bola sepak ini dijual dengan harga lebih dari 100 poundsterling, sementara anak-anak dari pekerjanya tidak mampu membelinya, yang menandakan kegagalan akuntabilitas yang jelas."
“Adidas dan FIFA harus bertanggung jawab atas seluruh rantai pasokan mereka dan memastikan semua pekerja yang membuat bola sepak menerima upah yang memungkinkan mereka untuk hidup bermartabat," tambahnya.
Forward Group yang berbasis di Pakistan meneken kontrak dengan Adidas untuk memproduksi sekitar 10 juta bola Trionda menjelang Piala Dunia 2026.
Baca juga:
Iran Mangkir di Kongres AFC Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Beri Kepastian
Kisaran harganya mulai dari 13 poundsterling (Rp 306 ribu) untuk versi mini hingga 130 poundsterling (Rp 3 juta) untuk versi profesional.
Namun, Adidas bersikeras bahwa bola-bola tersebut diproduksi di bawah kondisi kerja yang adil dan aman, termasuk upah yang adil.
Mengutip The Sun, banyak pekerja produksi kesulitan memberi makan keluarganya setelah Perang Iran, yang memicu kenaikan harga bahan bakar. Hal itu juga mendorong tingkat inflasi Pakistan hingga 10,9 persen.
Kesulitan mereka terungkap ketika para petinggi FIFA membanggakan kepemimpinan etis mereka dalam "Beautiful Game" bersama beberapa bintang sepak bola, salah satunya kapten timnas Inggris, Harry Kane.
Kota Sialkot di Pakistan, telah dihantui oleh label "kerja paksa" di beberapa pabrik selama bertahun-tahun, setelah menjadi pusat manufaktur global yang memproduksi 70 persen dari seluruh bola sepak di dunia.
Beberapa perusahaan telah diguncang oleh skandal yang menuduh, bahwa tenaga kerja mereka termasuk anak-anak dan pekerjaan dialihdayakan ke subkontraktor ilegal. Lalu, mereka menawarkan upah dan kondisi kerja yang buruk.
Adidas Bantah Pekerja di Pakistan Dapat Gaji Rendah
Forward Group telah menjadi produsen bola sepak terbesar di wilayah tersebut, setelah mendapatkan serangkaian kontrak bernilai besar. Mereka juga mengklaim telah memperbaiki praktik ketenagakerjaannya.
Adidas mengatakan, pihaknya telah memantau dan memeriksa secara ketat pabrik besar perusahaan tersebut, yang diperkirakan mempekerjakan sekitar 20.000 pekerja.
Forward Group sendiri merupakan mitra lamanya. Namun, gaji staf lini produksi masih jauh lebih rendah dibandingkan gaji di negara-negara maju.
Agen Federasi Pekerja Pakistan, Asif Khan mengatakan, bahwa sebelumnya ada banyak pekerja anak dan wanita yang dieksploitasi.
“Situasinya sekarang sudah cukup berubah, tetapi sebagian besar pekerja anak dan mereka yang diberi upah rendah sekarang telah pindah ke distrik Narowal," jelasnya.
Baca juga:
Aturan Baru di Piala Dunia 2026: Tutup Mulut saat Adu Argumen Bisa Berujung Kartu Merah
“Sejak Adidas mengancam akan menghentikan operasinya di Sialkot dan kehadiran langsung Nike dalam pembuatan bola sepak di sana menurun secara signifikan, perusahaan-perusahaan menjadi lebih berhati-hati."
Asif juga menyebutkan, pekerja baru biasanya digaji sekitar 40.000 Rupee Pakistan (Rp 2.493.000) per bulan. Sementara itu, pekerja lama mendapat upah 45.000 Rupee Pakistan (Rp 2.805.000) dan 50.000 Rupee Pakistan (Rp 3.116.000).
Baik Adidas maupun Forward membantah menggunakan pekerja subkontrak yang dibayar di bawah upah minimum Pakistan.
“Kami memastikan bahwa semua produk kami diproduksi dalam kondisi kerja yang adil dan aman, termasuk upah yang adil, melalui inspeksi rutin di lokasi, melakukan lebih dari 1.000 inspeksi dalam 12 bulan terakhir," ujar juru bicara Adidas.
“Forward Sports, sebagai pemasok yang disetujui Adidas, secara progresif meningkatkan standar hidup karyawan melalui peningkatan sistem upah, tunjangan, program kesejahteraan, dan layanan lainnya."
Selain itu, juru bicara FIFA mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak memiliki tambahan komentar terkait pernyataan Adidas. (sof)