PEMAHAMAN kehidupan seksual antara perempuan dan pria memang berbeda, terkadang memunculkan konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kuncinya adalah memahami kemauannya agar kehidupan percintaan menjadi lebih seru.
Pahamilah perempuan itu sangat senang bila dipeluk, bukan hanya berhubungan secara fisik. Mereka juga lebih mementingkan kedekatan emosi untuk membuat panas peraduan. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya dipahami oleh pria.
Bila sudah bersinggungan dengan masalah hubungan percintaan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan gender. Keduanya sama-sama menikmati kehidupan seksualnya, hanya saja memang harus ada saling kesepahaman.
Tidak benar hanya pria saja yang memiliki hasrat seksual tinggi, perempuan pun demikian. Seperti yang diungkapkan oleh laman Lifehack, dua gender ini seimbang dalam memenuhi hasrat itu. Ini bukan masalah kesetaraan gender, tapi fakta menunjukan hal itu. Bahkan penelitian di Inggris malah menuliskan 59% perempuan memiliki hasrat yang lebih tinggi ketimbang pria. Jadi mitos pria memiliki hasrat seksual yang lebih tinggi sebenarnya tidak berdasar.
Mitos menyebutkan jika perempuan harus disanjung terlebih dahulu maka permainan cinta akan jauh lebih seru. Paling tidak mau untuk diajak bercinta. Padahal tak sepenuhnya demikian. Pria pun butuh pujian maka dia akan berhasrat untuk bercinta dengan pasangannya. Pendeknya baik pria maupun perempuan butuh untuk disanjung dan rasa dibutuhkan untuk memanaskan percintaan.
Pria hanya menginginkan hubungan seksual, sedangkan perempuan butuh dielus, disayang-sayang dan dipeluk. Sekali lagi kedua gender membtuhkan itu untuk melakukan percintaan yang lebih seru. Keinginan itu dapat bangkit ketika kebutuhan seperti terkoneksi satu sama lain muncul. Pria tidak jauh berbeda dengan perempuan yang membutuhkan waktu bersama berkualitas, tak hanya sekedar berhubungan seksual. Meskipun ujungnya nanti sama saja, tapi tak selamanya harus langsung ke tujuan.
Hanya saja hal-hal seperti itu seolah tertanam di kepala masing-masing gender. Pria kemudian merasa harus menunjukan dominasinya pada perempuan dengan melangkah terlebih dahulu dalam hubungan seksual. Sedangkan perempuan merasa harus mengerem dirinya meskipun ia berhasrat untuk langsung berhubungan. (psr)