Gara-gara Kemacetan, Wisatawan Urung Menginap Tiga Hari di Bandung
Jembatan Layang 'Pelangi' yang melintasi persimpangan Jalan Jakarta dan Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung. (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)
MerahPutih.com - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Herman Muchtar menyebut kemacetan di Kota Bandung dapat menggangu bahkan merugikan sektor wisata.
Menurutnya, lalu lintas yang terganggu dapat menyebabkan terhambatnya mobilitas. Akhirnya, para wisatawan memilih untuk tidak berlama-lama di Kota Bandung.
Baca Juga:
"Pernah kejadian orang datang ke Bandung, rencana mereka menginap di Bandung itu tiga malam, mereka jalan-jalan terus mereka datang di hotel lagi jam 11 malam karena kemacetan, akhirnya mereka tidak jadi menginap," kata Herman di Bandung, Jumat (18/10), dikutip Antara.
Berdasarkan kejadian tersebut, menurutnya, mereka memilih untuk tidak berlama-lama di Kota Bandung. Karena menurutnya, mereka sudah memperhitungkan esok harinya bakal terjadi kemacetan yang sama.
"Karena macet itu, mereka pulang lagi ke Jakarta, mereka tahu besoknya akan macet lagi," katanya.
Memang menurutnya, Bandung merupakan salah satu destinasi utama bagi para wisatawan khususnya warga dari Jakarta. Setelah adanya label Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia, jangan sampai para wisatawan lebih memilih daerah lain.
"Karena daerah lain semakin maju, Semarang semakin maju, Jogja semakin maju, jadi orang (wisatawan) akan berpindah nanti, jadi kita harus berhati-hati bila wisatawan enggan datang ke Bandung," kata dia.
Baca Juga:
Selain itu menurutnya, kemacetan ini dapat berdampak bagi banyak sektor, bukan hanya dari sektor wisata.
Dengan demikian, ia berharap seluruh pihak dapat mencari solusi agar masalah kemacetan ini dapat terselesaikan. Karena setiap pihak baik pemerintah, aparat, maupun pengusaha itu berbeda kompetensi dan memiliki solusi yang berbeda.
"Beda selera kita (warga) dengan pemerintah dan dengan pengusaha, pengusaha itu yang paham dengan untung ruginya, ini harus kita cari solusinya," kata Herman.
Sebelumnya, Kota Bandung menjadi kota termacet se-Indonesia atau peringkat ke-14 termacet se-Asia berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB).
Dalam survei yang dilakukan oleh ADB, ada sedikitnya 278 kota yang diteliti dari sebanyak 45 negara di Asia. Kota Bandung berada di peringkat ke-14, lebih parah dari Jakarta yang berada di peringkat ke-17 dan Surabaya peringkat ke-20. (*)
Baca Juga:
Mau Traveling Gak Biasa, Nih Kamu Mesti Coba Wisata Nuklir di Bandung
Bagikan
Berita Terkait
Jalan DI Panjaitan Jakarta Banjir 50 Cm, Hanya Bisa Dilalui Satu Lajur
Banjir Picu Kemacetan Parah saat Pulang Kerja di Jalan Daan Mogot Cengkareng Jakbar
Pemda Siapkan Dana Rp 7,3 Miliar Buat Korban Longsor Cisarua Bandung
Nasib Kebun Binatang Bandung Ditentukan 2 Bulan Lagi
Persib Vs Persija, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Larang Bobotoh Pawai dan Minta Dewasa
Polda Metro Ungkap Lonjakan Kendaraan di 2025, Berdampak Besar ke Kemacetan Jakarta
2026 Jakarta akan Macet, PAM Jaya Minta Maaf karena Proyek Pipa 1.000 Km
Benda Mirip Bom di Depan Gereja GKPS Ternyata Cuma Kayu, Polisi Buru 'Prankster' yang Bikin Jantungan Warga
Wakilnya Masuk RS Setelah Jadi Tersangka, Walkot Farhan Mau Besuk Tunggu Izin Kejari
Warga Bantaran Citarum Direlokasi, Pemerintah Berikan Uang Kontrak Rumah 1 Tahun