Feeding Difficulties Hambat Tumbuh Kembang Optimal Anak
Faktor emosional seperti stres, perubahan rutinitas, atau kecemasan juga bisa mempengaruhi nafsu makan dan keinginan anak mencoba makanan baru. (Foto: Pexels/Naomi Shi)
ORANGTUA harus waspada bila anak menunjukkan kesulitan makan. Antara lain penolakan makan selama lebih dari satu bulan, waktu makan terlalu lama, dan stres ketika makan. Kemungkinan besar ini adalah gejala masalah makan (feeding difficulties).
Masalah ini lazim dialami orangtua di Indonesia dan negara lain. Karena masalah ini, orangtua akan kesulitan menunaikan kebutuhan gizi anak pada masa pertumbuhan. Akibatnya, anak bisa terkena malnutrisi dan terhambat tumbuh-kembangnya.
Masalah makan bisa disebabkan oleh beberapa hal. Dari faktor lingkungan, perilaku atau psikologis anak, hingga gangguan organik seperti gangguan saluran cerna.
Dari perspektif gastrohepatologi, feeding difficulties bisa terjadi karena gangguan pada pencernaan sehingga memengaruhi nafsu makan anak dan rutinitas makan sehari-hari.
Beberapa gangguan pencernaan juga ditengarai jadi penyebab ketidaknyamanan anak saat makan. Antara lain diare, muntah, sakit perut, demam, gastroesophageal reflux disease (GERD), intoleransi laktosa, atau gangguan gastrointestinal lainnya.
Baca juga:
Nutrisi Tambahan Bantu Anak Bermasalah Makan Tumbuh Maksimal
Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Ph.D, Pakar Gastrohepatologi menyebutkan masalah makan pada anak perlu menjadi perhatian karena berdampak pada terganggunya pertumbuhan.
“Konsumsi zat nutrisi yang tidak optimal, perkembangan juga terganggu, dan mempengaruhi emosinya. Istilah yang sering dipakai dan penerapannya pada masalah makan bervariasi, kadang tidak konsisten. Ada yang menyebutnya kesulitan makan, picky eater, selective eater, dan beberapa istilah lainnya,” ungkap Prof. Hegar dalam diskusi Penyebab dan Dampak Masalah Makan Terhadap Tumbuh Kembang Optimal melalui keterangan resmi kepada Merahputih.com.
Prof. Hegar menyarankan orangtua untuk mengevaluasi kemungkinan adanya kelainan organik pada anak, minimal setiap 3 bulan.
"Tidak jarang kelainan organ yang tidak tertata laksana dengan maksimal, menyebabkan gangguan mind-set anak yang meninggalkan trauma terhadap makanan, sehingga meski kelainan organik telah teratasi, anak tetap mengalami masalah makan, menolak makanan yang diberikan,” papar Prof. Hegar.
Sementara itu, Vera Itabiliana S. Psi, Psikolog Anak di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, menjelaskan penyebab masalah makan pada anak dari sudut pandang psikologi dan kebiasaan di keluarga.
Vera menyebut, praktik orang tua dalam memberi makan, orang tua yang juga memiliki feeding difficulties, atau sering menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman dapat berkontribusi pada kebiasaan pilih-pilih makanan (picky eaters).
Baca juga:
Pentingnya Dukungan Bunda Optimalkan Tumbuh Kembang Buah Hati
Anak yang mempunyai pengalaman negatif dengan makanan tertentu akan ragu mencobanya lagi. (Foto: Pexels/Olia Danilevich)
"Lalu pemberian variasi menu makanan yang terbatas juga menyebabkan anak memiliki masalah feeding difficulties. Makanan bervariasi dengan ragam rasa dan tekstur penting diajarkan sejak dini untuk mengembangkan penerimaan makanan," ungkap Vera.
"Lingkungan makanan di rumah termasuk ketersediaan makanan yang berbeda dan kebiasaan makan anggota keluarga, dapat mempengaruhi pilihan dan preferensi makanan anak,” sambung Vera.
Vera Itabiliana menambahkan, anak yang mempunyai pengalaman negatif dengan makanan tertentu akan ragu mencobanya lagi. Faktor emosional seperti stres, perubahan rutinitas, atau kecemasan juga bisa mempengaruhi nafsu makan dan keinginan anak mencoba makanan baru. Ujungnya, anak susah makan.
Jika sudah begitu, anak berisiko mengalami malnutrisi sehingga menghambat tumbuh kembangnya dan melemahkan sistem imunitas. Keadaan begini rentan bikin anak mudah terinfeksi dan menurunkan daya pikir anak.
Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, Dokter Tumbuh Kembang Anak RSCM menjelaskan agar terhindar dari risiko malnutrisi, beberapa hal harus diperhatikan orang tua terkait pola makan anak.
“Hal yang paling penting dilakukan orang tua dalam situasi ini adalah segera berkonsultasi dengan dokter, jadi bisa ditentukan prioritas penanganan dan tata laksananya,” jelas dr. Bernie.
Dr. Bernie menekankan peran penting orangtua dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak. Dia meminta orangtua memperhatikan pola makan anak dan variasi makanan yang akan sajikan kepada anak. (kna)
Baca juga:
Bagikan
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Liburan Keluarga Makin Seru, Nickelodeon Playtime Paw Patrol Hadir di Carstensz Mall Tangerang
Kemenag Ingatkan Pentingnya Pencatatan Pernikahan, Lindungi Hak Perempuan dan Anak
Anak Demam 40 Derajat Masih Lari-Larian? Dokter RSUD Pasar Rebo Larang Buru-Buru Kasih Paracetamol
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan