Enggan Nyerah Meski Gagal Panen, Jinis Sukses Jualain Usaha Peti Buah

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Selasa, 27 September 2022
Enggan Nyerah Meski Gagal Panen, Jinis Sukses Jualain Usaha Peti Buah

Jinis berhasil jualain usaha peti buah. (Foto: Unsplash-Annie Spratt)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PETI buah mungkin terkesan sepele. Semua mata tentu saja akan tertuju pada buah, tetapi tidak pada petinya. Berbeda halnya dengan M Jinis Khatib Jalelo. Lelaki berusia 64 tahun tersebut justru mampu membuktikan kalau peti bisa jauh lebih berharga ketimbang buah di dalam peti. Dengan modal nol rupiah, Jinis bisa memberdayakan 19 pekerja nan mayoritas perempuan dengan usaha peti buah.

Ke-19 pekerja tersebut semula merupakan orang kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya di Jorong Baduih, Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Bahkan, pekerjanya tersebut ada pula nan usianya hamper mencapai 70 tahun. Baginya, seperti dikutip Antara, berkait umur senja tak jadi masalah selama masih bisa bekerja.

Baca Juga:

Produk Komestik Lokal dengan Kemasan Berkelanjutan

Saban hari, usaha Jinis beromzet mencapai Rp 4 juta meski terhitung merupakan pendapatan kotor. Hasil tersebut diraih lelaki berpenampilan sederhana tersebut tak tiba-tiba sebab digapai melalui jalan panjang berliku.

Sebelum menjadi pengusaha, ia hanya seorang petani ladang penggarap lahan keluarga untuk menanam jagung, kacang dan cabai. Saat kemarau panjang pada 2007, Jinis gagal memanen hasil ladangnya bahkan hingga berkali-kali sampai kehabisan modal untuk membeli bibit dan pupuk.

jinis
Jinis mengangkat peti buah bikinannya. (Foto: Antara)

Gagal panen berkali-kali, membuat Jinis menyerah dan memilih menggeluti usaha lain. Namun, kala itu Jinis kebingungan harus usaha apa sebab modal untuk mulai berusaha saja tidak ada.

Akhirnya ia mengajak keluarganya untuk berembuk terkait usaha apa akan dijalani di tengah kondisi ekonomi keluarga terpuruk, setelah hasil ladang gagal dipanen. Lalu muncul ide untuk membuat kerajinan dari kayu piri-piri.

Meski ide sudah ada, persoalan lain datang berkait permodalan. Beruntung, keponakannya di Kota Padang punya mesin pemotong kayu. Mesin tersebut dimanfaatkannya untuk memulai membuat kerajinan kayu piri piri.

Ia pun meminjam mesin dan membawa ke kampung, sedangkan untuk kayu diolah menjadi piri-piri, dibeli dengan cara berutang.

Harga satu truk kayu seharga Rp700 ribu ketika itu. Makanya, ketika memulai usaha modalnya hanya nol rupiah.

Namun, usaha kerajinan kayu piri-piri hasilnya tak begitu menjanjikan, karena uang penjualan hanya cukup untuk biaya makan sekeluarga. Meski begitu ia tidak menyerah dan terus menjalani usaha dari kayu piri-piri.

Tokoh adat di Kecamatan Rambatan tersebut tak henti-henti berdoa dan berusaha agar usahanya dilancarkan. Lalu, salah seorang pengusaha peti buah menawarinya untuk bekerja sama. Karena, pengusaha peti buah itu tertarik untuk membeli kayu piri-piri buatannya. Namun ketika itu dibeli dengan harga murah.

jinis
Usahanya melajut pesat setelah beroleh pendanaan. (Foto: Unsplash-Luann Hunt)

Selain itu, pengusaha peti buah itu juga menawarinya membuat bingkai peti buah dan dijual kepadanya. Tawaran itu diterima Jinis. Beberapa bulan kemudian ia juga ditawari membuat dinding peti.

Pada 2010, Jinis didatangi seorang pengusaha ekspor buah untuk bekerja sama membuat peti buah. Di awal kerja sama tersebut, Jinis hanya bisa membuat 50 peti buah sehari. Padahal, permintaan peti buah kala itu sangat banyak jumlahnya.

Dari situ akhirnya jinis mulai memproduksi peti buah karena sebelumnya hanya buat kayu piri-piri untuk dijadikan rangka dan dinding peti buah.

Baca Juga:

Jualain Exquise Patisserie Kenalkan Keik Cita Rasa Indonesia

Beberapa bulan setelah membuat peti buah, persoalan pun datang. Salah satunya, kayu diolahnya dinyatakan tidak ada izin aparat kepolisian. Kemudian, Jinis lantas meminta bantuan Bupati Tanah Datar ketika itu dijabat M. Shadiq Pasadigoe.

Bupati bersama Dinas Kehutanan Tanah Datar, TNI, dan Polri kemudian meninjau usaha peti buah buatannya. Kemudian, bupati menyebut kayu diolah menjadi peti buah tersebut kalau di Kabupaten Sijunjung dibakar orang.

Meskipun begitu, Shadiq tetap memerintahkan dinas kehutanan untuk mengurus izin pengolahan kayu milik Jinis. Setelah izin keluar, Betti Shadiq, merupakan istri dari bupati, menawarkan untuk menjadi mitra binaan CSR Semen Padang. Semen Padang merupakan perusahaan di bawah naungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Jinis
Jinis kesulitan menyanggupi permintaan peti buah karena keterbatasan alat. (Foto: Unsplash-Rachma Septia)

Dengan senang hati, Jinis menerima tawaran tersebut. Karena menurutnya, banyak kemudahan didapat ketika menjadi mitra binaan CSR sebuah perusahaan.

Selain dapat pinjaman modal usaha, Jinis juga diberikan pelatihan mengenai manajemen keuangan. Ia pun beroleh pinjaman modal usaha sebesar Rp 10 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli kayu dan kebutuhan lainnya, seperti paku, termasuk menambah jumlah pekerja.

Dari situ awal kesuksesannya. Usahanya terus berkembang. Bahkan, permintaan terhadap peti buah terus berdatangan dari berbagai daerah, seperti Payakumbuh, Bukittinggi, Medan dan Jakarta.

Namun, di tengah permintaan tinggi nan tidak seimbang dengan jumlah produksi, Jinis memang tidak bisa berbuat banyak. Ketika itu dalam sehari ia hanya bisa memproduksi sampai 150 peti, sedangkan permintaan sampai 300 peti.

Ia tidak bisa meningkatkan produksi karena keterbatasan modal, termasuk bahan baku, seperti kayu, ditambah lagi jumlah pekerja hanya lima orang.

Baru pada 2013, Jinis kembali mendapat pinjaman jumlahnya Rp50 juta. Uang itu kemudian digunakan untuk membeli mesin potong kayu, menambah jumlah stok bahan baku, termasuk menambah jumlah pekerja.

Sejak mendapatkan pinjaman kedua, rata-rata produksi peti buah bisa mencapai 300 sehari dengan satu peti buah dijual seharga Rp 13.000. Jadi, kalau dikalkulasi, maka omzet sehari bisa mencapai Rp4 juta. Jumlah itu masih merupakan pendapatan kotor.

M. Jinis mengaku bangga bisa menjadi bagian dari UMKM binaan perusahaan milik negara itu karena usaha peti buahnya bisa berkembang pesat. Bahkan selain membuat peti buah, ia juga membuat kayu reng dengan berbagai ukuran. (*)

Baca Juga:

Produk Komestik Lokal dengan Kemasan Berkelanjutan

#Kuliner #UMKM #September Warga +62 JUALAIN
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Peningkatan Penjualan Produk Lokal Bisa Naikkan Serapan Tenaga Kerja
Penguatan konsumsi produk lokal perlu didukung oleh berbagai langkah strategis, mulai dari perlindungan terhadap industri dalam negeri hingga peningkatan daya saing produsen lokal.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 11 Juni 2026
Peningkatan Penjualan Produk Lokal Bisa Naikkan Serapan Tenaga Kerja
Indonesia
13 Juta UMKM Dapat Sertifikasi Halal, Banten Nomor 1 Dalam Pendaftaran
Secara nasional 13 juta produk yang sudah sertifikasi halal itu memang terbesarnya yaitu 80 persen dari pelaku usaha mikro kecil
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 08 Juni 2026
13 Juta UMKM Dapat Sertifikasi Halal, Banten Nomor 1 Dalam Pendaftaran
Indonesia
Tayangan Piala Dunia 2026 Dapat Menjadi Roda Penggerak Sektor UMKM Indonesia
"TVRI akan menyiarkan langsung pertandingan-pertandingan Piala Dunia yang bisa dinikmati masyarakat."
Frengky Aruan - Jumat, 29 Mei 2026
Tayangan Piala Dunia 2026 Dapat Menjadi Roda Penggerak Sektor UMKM Indonesia
Indonesia
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Masih di Bawah Target RPJMN
Realisasinya baru mencapai 18,3 persen atau sekitar Rp 1.500 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 270 triliun merupakan penyaluran KUR
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 18 Mei 2026
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Masih di Bawah Target RPJMN
Dunia
Perang di Iran Bikin Camilan Tampil Hitam Putih
Langkah ini menjadi contoh terbaru bagaimana barang kebutuhan sehari-hari terdampak setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz.
Dwi Astarini - Rabu, 13 Mei 2026
  Perang di Iran Bikin Camilan Tampil Hitam Putih
Kuliner
Sate Lalat, Kuliner Unik Madura yang Bisa Jadi Inspirasi Olahan Daging Kurban
Sate lalat khas Madura bisa jadi inspirasi olahan daging kurban saat Idul Adha. Simak asal-usul nama, cara membuat, dan sejarah kuliner legendaris ini.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 13 Mei 2026
Sate Lalat, Kuliner Unik Madura yang Bisa Jadi Inspirasi Olahan Daging Kurban
Kuliner
Hennessy MyWay 2026 Buka Peluang Mixologist Indonesia Tampil di Panggung Global
Hennessy MyWay merupakan platform yang menantang para bartender mendefinisikan ulang seni meracik koktail melalui keberlanjutan, storytelling, dan pengalaman berbasis ritual.
Dwi Astarini - Selasa, 12 Mei 2026
Hennessy MyWay 2026 Buka Peluang Mixologist Indonesia Tampil di Panggung Global
Indonesia
Kemendag Ingin Franchise Jadi Model Bisnis Tingkatkan Wirausaha
Masyarakat untuk lebih cermat dan bijak dalam memilih penawaran bisnis dengan menggunakan prinsip 2L, yang berarti legal dan logis.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 07 Mei 2026
Kemendag Ingin Franchise Jadi Model Bisnis Tingkatkan Wirausaha
Kuliner
Sake dari Luar Angkasa Terjual Rp 11 Miliar, Kemasannya cuma 100 Mililiter
Dassai bekerja sama dengan Mitsubishi Heavy Industries untuk melakukan fermentasi bahan sake di angkasa luar.
Dwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
Sake dari Luar Angkasa Terjual Rp 11 Miliar, Kemasannya cuma 100 Mililiter
Indonesia
Usaha Mikro Diklaim Telah Dapat Kucuran KUR Rp 70 Triliun, Bakal Perbanyak Wirausaha
Pemerintah menargetkan hingga tahun 2029 sedikitnya 10 juta masyarakat dapat bekerja secara formal atau menjadi wirausaha.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 05 Mei 2026
Usaha Mikro Diklaim Telah Dapat Kucuran KUR Rp 70 Triliun, Bakal Perbanyak Wirausaha
Bagikan