Kesehatan Mental

Enggak Realistis, Hidup tanpa Penyesalan

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 10 Juni 2022
Enggak Realistis, Hidup tanpa Penyesalan

Menjalani kehidupan yang penuh berarti memiliki beberapa penyesalan. (freepik/yanalya)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ADA beberapa orang yang mengatakan mereka tidak pernah menyesali apa yang telah dilakukan dan mereka hanya fokus pada hal berikutnya. Tujuannya ialah menjalani hidup tanpa penyesalan. Apakah ini realistis?

"Saya pikir ini tidak realistis karena beberapa alasan. Saya menyarankan bahwa menjalani kehidupan yang penuh berarti memiliki beberapa penyesalan dan, semoga, belajar darinya," ujar profesor psikologi klinis Robert L Leahy, PhD di Weill-Cornell Medical School, New York, AS.

Menurutnya, semua emosi berevolusi karena memiliki beberapa kegunaan, dalam banyak kasus, melindungi evolusi nenek moyang manusia dari bencana.

BACA JUGA:

Flexing Versus Humblebragging, Dua Cara Unjuk Gigi Serupa Tapi Tak Sama

"Ketakutan akan ketinggian, kegelapan, binatang, orang asing, air, ruang tertutup, dan potensi bahaya lainnya telah menjadi ketakutan universal yang ditemukan di semua budaya. Ketakutan melindungi," jelasnya dalam artikel di Psychology Today.

Begitu pula dengan emosi seperti cemburu, iri, marah, dan menyesal. Kecemburuan adalah bentuk penjagaan pasangan yang ditemukan di banyak spesies yang melindungi investasi genetik.

perempuan
Manusia belajar dari kesalahan mereka dan mereka mengoreksi diri. (freepik/benzoix)

"Iri, ketidaknyamanan mengetahui seseorang melakukan lebih baik daripada yang kamu lakukan, ditemukan pada spesies dengan hierarki dominasi. Kehilangan status dalam hierarki mengurangi kemungkinan kamu mewariskan gen. Status memiliki keuntungan: prokreasi, makanan yang lebih baik, aliansi yang dapat membantumu, dan banyak faktor lainnya," ujarnya.

Penyesalan bisa bermanfaat

menyesal
Orang yang dipandang memiliki kapasitas untuk bersalah lebih dipercaya. (freepik/karlyukav)

Dengan demikian, Leahy berpendapat, penyesalan pun berguna dalam beberapa konteks. Misalnya, anak-anak yang mengungkapkan penyesalan lebih mampu membuat keputusan dan lebih baik dalam mengatur emosi mereka.

"Manusia belajar dari kesalahan mereka dan mereka mengoreksi diri. Mereka dapat mengantisipasi hal-hal yang mungkin tidak akan berhasil sehingga mereka kemudian dapat menghindari membuat lebih banyak kesalahan. Mereka jadi memiliki keterampilan yang lebih baik dalam mengatur emosi karena mereka tidak bertindak impulsif," urainya.

Kamu mengantisipasi penyesalan dan memutuskan untuk mengambil tindakan yang berbeda. "Mengantisipasi penyesalan dapat membantu meningkatkan kepatuhan minum obat. Ketika pasien diminta untuk membayangkan bagaimana jadinya jika mereka mengalami stroke yang serius, mereka lebih mungkin untuk minum obat hipertensi," Leahy mencontohkan.

BACA JUGA:

Kamasean Matthews Ajak Generasi Muda Jaga Perdamaian Lewat Musik

Contoh lain, ketika orang yang lebih muda diminta untuk membayangkan seperti apa mereka nantinya dan bagaimana mereka akan hidup di akhir usia enam puluhan, mereka akan berlomba menambah tingkat tabungan mereka sekarang.

"Orang dalam kondisi manic sering tidak mengantisipasi menyesali perilaku berisiko mereka. Mereka mungkin bertindak impulsif, menjadi bermusuhan, menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol, terlibat dalam perilaku seksual berisiko atau menghabiskan uang yang tidak mereka miliki," kata Leahy.

Dia menambahkan, mania sering kali gagal mengantisipasi penyesalan di kemudian hari. "Saya telah menemukan pasien bipolar yang dapat melihat kembali episode manic mereka dan mengingat kesalahan yang mereka buat akan cenderung tidak bertindak impulsif di masa depan. Mereka lebih mungkin untuk mengambil obat penstabil suasana hati mereka," ujarnya.

"Kita tahu bahwa orang yang tulus dalam penyesalannya saat meminta maaf lebih mungkin untuk dimaafkan atas kesalahannya. Penyesalan mereka membantu menyelamatkan hubungan. Bahkan di tempat kerja, penelitian menunjukkan orang yang dipandang memiliki kapasitas untuk bersalah lebih dipercaya dan bekerja lebih efektif dalam kelompok," ujar Leahy.(aru)

BACA JUGA:

Anak Muda Bandung Rentan Terserang Hipertensi

#Kesehatan #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
ShowBiz
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Britney Spears mengenang 15 tahun bekerja tanpa henti, masa konservatori, dan keinginannya menjalani hidup dengan lebih bebas.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 14 Oktober 2026
Britney Spears Kenang 15 Tahun Bekerja Tanpa Henti, Ungkap Kepahitan soal Kebebasan Pribadi
Lifestyle
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Khawatir anak kecanduan atau kena cyberbullying? Simak panduan lengkap dan fitur pengawasan orang tua dari Roblox untuk menjaga kesehatan mental anak saat main gim online.
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 10 Oktober 2026
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan