MerahPutih.com - Serangan Amerika Serikat dan Isrel ke Iran membuat Kawasan Timur Tengah bergejolak dan terhentinya proses ekspor dan impor ke wilayah tersebut karena masalah keamanan kapal logistik.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto menjelaskan, roduksi kendaraan tetap berjalan normal sesuai dengan pesanan dari pasar ekspor, namun, proses pengapalan untuk wilayah Timur Tengah sementara terhenti karena gangguan pada jalur pengiriman.
“Sampai saat ini komitmen kami dengan importir tidak ada perubahan. Hanya masalahnya adalah logistik terganggu, sehingga kita tetap produksi normal sesuai dengan order, tapi shipping atau pengapalan melihat situasi,” imbuhnya.
Akibat tertahannya pengiriman, Toyota Indonesia kini menyiapkan area penampungan kendaraan di stockyard. Kendaraan yang telah diproduksi sementara disimpan sambil menunggu kondisi pengiriman kembali memungkinkan.
Baca juga:
Bertemu Prabowo dan SBY di Istana, Jokowi Ngaku Dialog Perdamaian Timur Tengah lewat BoP
Kontribusi pasar Timur Tengah diperkirakan sekitar 17-20 persen dari total ekspor kendaraan Toyota Indonesia.
“Yang kita produksi tidak bisa shipping, jadi sekarang stop dulu. Tapi komitmen belum ada perubahan,” kata Nandi.
Perusahaan juga mengaku belum dapat memastikan berapa lama penundaan pengiriman akan berlangsung. Saat ini kapal-kapal pengangkut disebut belum beroperasi menuju kawasan tersebut.
“Belum tahu, karena kapal sekarang tidak ada yang jalan ke sana,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi situasi ini, TMMIN tengah mempelajari kemungkinan penggunaan rute pengiriman alternatif. Sementara itu, pengiriman komponen atau suku cadang tetap dilakukan dengan memanfaatkan jalur udara.
Di sisi lain, TMMIN menegaskan pasar ekspor mereka tidak hanya bergantung pada Timur Tengah. Saat ini, ekspor terbesar perusahaan justru menuju kawasan ASEAN dan Amerika Latin.
Toyota Indonesia memastikan komitmen ekspor ke pasar Timur Tengah masih berjalan seperti biasa meskipun situasi geopolitik di kawasan tersebut memanas.
Perusahaan menyatakan hingga saat ini belum ada perubahan komitmen dengan para importir, namun pengiriman kendaraan menghadapi kendala logistik. (*)

