MerahPutih.com - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mendorong Bank Indonesia (BI) mengubah strategi dalam menjaga stabilitas rupiah.
Ia meminta BI mengurangi ketergantungan terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan modal jangka pendek.
Pernyataan tersebut disampaikan Achmad menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo.
Baca juga:
Achmad menilai tekanan terhadap rupiah menunjukkan bahwa peningkatan daya tarik imbal hasil instrumen keuangan belum cukup untuk mengubah persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Ia mencatat posisi SRBI pada 15 Juni 2026 mencapai Rp 1.021,13 triliun dengan kepemilikan investor nonresiden Rp 238,09 triliun.
Pada 20 Juli, kepemilikan nonresiden meningkat menjadi Rp 288,65 triliun atau 27,11 persen dari keseluruhan SRBI. Namun, rupiah masih berada di sekitar Rp 17.885 per dolar AS pada 21 Juli.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa menawarkan imbal hasil tinggi belum berhasil mengubah penilaian investor terhadap Indonesia,” kata Achmad dalam keterangannya, Senin (10/8).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan bauran kebijakan, bukan sekadar memperbesar intervensi atau meningkatkan daya tarik instrumen moneter.
Baca juga:
Prabowo Kirim Surat ke DPR, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur BI
Dorong Penguatan Investor Domestik
Achmad menyarankan BI mulai mengurangi ketergantungan terhadap SRBI dan modal jangka pendek.
Selain itu, ia mendorong perpanjangan struktur jatuh tempo instrumen serta penguatan basis investor domestik.
Ia juga mengingatkan perlunya menghindari persaingan yang tidak sehat antara SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).
Di sisi lain, BI dinilai perlu membangun ekosistem devisa hasil ekspor yang memberikan insentif lebih kuat kepada eksportir agar menempatkan dan menggunakan devisanya di dalam negeri.
Fasilitas lindung nilai berbiaya rendah perlu dihubungkan dengan pembiayaan modal kerja rupiah dan platform pencocokan kebutuhan valuta asing eksportir serta importir,
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat.
Kebijakan Stabilitas Rupiah Jangan Tekan Sektor Produktif
Achmad juga mendorong agar kebijakan stabilisasi rupiah tidak berdampak merata terhadap pembiayaan sektor produktif.
Menurutnya, diperlukan desain kebijakan yang lebih selektif agar pengetatan moneter untuk menjaga nilai tukar tidak sekaligus menekan aktivitas ekonomi produktif.
Ia menilai pendekatan tersebut akan menjadi tantangan bagi Destry apabila nantinya mendapat persetujuan DPR sebagai Gubernur BI definitif.
“Bauran semacam itu membutuhkan pemimpin yang berani mempertanyakan instrumen lama, bukan sekadar menambah skalanya,” kata Achmad.
Menurut Achmad, posisi Gubernur BI tidak semestinya diberikan hanya berdasarkan senioritas, tetapi kepada figur yang mampu melahirkan arsitektur kebijakan baru untuk memperkuat rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor. (Knu)