Dunia Pendidikan Indonesia Krisis Kecerdasaan Emosional

Andika PratamaAndika Pratama - Kamis, 05 Oktober 2017
Dunia Pendidikan Indonesia Krisis Kecerdasaan Emosional

Tawuran Pelajar. Foto: Ist

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Teror penembakan yang terjadi di Las Vegas pada 1 Oktober lalu harus mendapatkan perhatian serius dari masyarakat Indonesia. Sebab ternyata teror muncul sejak seorang pribadi bertumbuh dari kecil. Seiring pertumbuhannya, maka potensi teror sedang dipelihara oleh individu tersebut.

Menurut Pemerhati Perilaku Remaja dari Wiratama Institute, Rahmawati Habie, setiap pihak wajib mendidik dan mengendalikan kecerdasan emosionalnya dan keluarganya, agar mampu menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya masing-masing.

Salah satu di antaranya adalah, dunia pendidikan yang diharapkan memberi materi penting tentang upaya pengendalian diri dalam kurikulumnya. Dengan demikian, siswa dapat memahami dan mengembangkan pengendalian dirinya saat berada dalam tekanan.

Rahmawati menilai, saat ini dunia pendidikan di Indonesia mengalami krisis kecerdasan emosional. Hal itu disampaikannya menanggapi maraknya isu dari dunia pendidikan terkait kematian pelajar SMA Budi Luhur Bogor, Hilarius Christian Event Raharjo akibat duel ala gladiator dengan pelajar SMA Mardiyuana.

"Duel maut ala gladiator ini sudah menjadi budaya yang dilakukan sejak empat tahun lalu dan terjadi menjelang turnamen basket di Bogor," paparnya dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis (5/10).

Sejauh ini, katanya, polisi telah berhasil menangkap keempat tersangka di lokasi berbeda. Diantara ke empat tersangka, masih ada yang berstatus pelajar.

Ia mengatakan, masalah yang terjadi di SMA Budi Luhur itu sangat berhubungan dengan kecerdasan emosional pelajar. Kecerdasan emosional itu sendiri, terdiri dari beberapa aspek, diantaranya kemampuan untuk mengontrol emosi dengan baik, yang ditunjukkan dengan sikap empati dan saling membantu satu sama lain.

“Hal ini dapat membantu dan meningkatkan proses pembelajaran. Akibatnya prestasi belajar menjadi maksimal,” terang Rahma.

Manfaat Kecerdasan Emosional

Mengutip pendapat ahli, Rahma menyebutkan beberapa manfaat kecerdasan emosi bagi pengembangan diri pelajar. Yaitu, dapat berkembang dan berprestasi, menjadi pribadi yang menyenangkan, dapat memperbaiki perilaku, dapat mengendalikan diri, dapat meminimalisasi pemikiran, menjadi rileks, dan sukses dalam kehidupan.

“Siswa yang memiliki kecerdasan emosi stabil, mampu mengendalikan amarah dan dapat memecahkan masalah antar pribadi. Sehingga secara signifikan dapat memengaruhi prestasi belajar pada setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah,” papar dia.

Lebih lanjut, tambah dia, siswa pemilik kecerdasan emosional yang baik akan menjadi manusia yang bertanggung jawab.

“Karena itu, guru juga merupakan faktor penting dalam memaksimalkan juga meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan selalu mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar, menginsipirasi siswa, memberikan penguatan sehingga akan tercipta rasa tanggung jawab, empati, dan kemampuan dalam mengendalikan amarah,” tutup dia.

Krisis Pengendalian Diri

Menanggapi itu, Pengamat Kebijakan Publik bidang Sosial Masyarakat dari Universitas Indonesia, Sri Handiman Supyansuri mengatakan, kini banyak kalangan remaja dan pemuda yang mengalami krisis pengendalian diri. Hal itu terjadi, katanya, akibat minimnya pembelajaran tentang kecerdasan emosional yang diajarkan di sekolah.

Menurut dia, sekolah saat ini cenderung hanya mengajarkan hal-hal yang sangat standar terkait pendidikan, sehingga menyulitkan siswa untuk melihat serta belajar tentang pengendalian diri. Di sisi lain, banyak keluarga yang abai terhadap pendidikan emosional anak-anaknya. Artinya, tidak ada figur yang bisa menjadi teladan anak dalam mengendalikan dirinya.

“Berbekal gadget yang dimiliki, acapkali orangtua merasa telah menjalankan tugas tanggungjawabnya dalam mendidik anak. Padahal, masalah kecerdasan emosional dapat dipelajari dari orangtua sendiri. Bukan dari kecanggihan teknologi. Justru tanpa didikan orangtua secara langsung, maka fasilitas teknologi hanya akan merugikan pertumbuhan kecerdasan emosional anak,” papar Handiman.

Memendam Teror

Ia menyayangkan, para pelaku yang harus mendekam di dalam tahanan selama puluhan tahun akibat perbuatan mereka. Hal itu, tambah Handiman, seolah tindakan yang berupaya memendam teror kepada masyarakat yang lebih luas.

“Bayangkan, jika para pelaku dihukum 15 tahun penjara. Jika saat ini usia mereka sekitar 17-19 tahun, lalu pada usia sekitar 27-19 tahun saat mereka keluar dari penjara, maka potensi mereka untuk mengulangi kesalahan yang sama besar terjadi. Karena itu, pemerintah dan seluruh pihak wajib memikirkan solusi agar kasus seperti ini tidak menjadi lingkaran setan di Indonesia,” tandas dia.

Ia mencontohkan, perilaku teror yang terjadi di Las Vegas, Minggu (1 Oktober 2017) lalu, menegaskan Stephen Craig Paddock (65), pelaku penyerangan brutal itu, memiliki ayah seorang perampok bank terkenal. Saat usia 7 tahun, Paddock kecil diajak berenang oleh tetangganya ketika agen FBI menggeledah rumah keluarga tersebut dan menangkap ayahnya.

“Artinya, peran orangtua dalam membentuk pengendalian emosional anak, menjadi sangat penting. Kalau abai, maka sesungguhnya orangtua sedang memelihara dan memendam teror di masa depan,” tambah dia lagi.

Setahun Berlalu

Sebelumnya diberitakan, Hilarius Christian Event Raharjo tewas setelah terlibat dalam aksi duel ala gladiator. Peristiwa itu sendiri terjadi pada akhir Januari 2016, dan saat itu pihak keluarga tidak menyetujui dilakukan otopsi terhadap jenazah Hilarius. Namun pada pertengahan September 2017 lalu, pihak keluarga menceritakan semua kisah mengenai kematian Hila sekaligus memohon bantuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Facebook untuk mengusut dan menyelesaikan kasus tersebut.

Pihak kepolisian telah berupaya mengungkap kasus tersebut, melalui penangkapan terhadap para pelaku dan telah melakukan otopsi terhadap korban Hila. (*)

#Pendidikan Karakter #Pendidikan Anak #Siswa
Bagikan
Ditulis Oleh

Andika Pratama

Berita Terkait

Indonesia
Disdik Keluarkan SE, Penggunaan Gawai Siswa di Sekolah Dibatasi
Disdik DKI Jakarta menerbitkan surat edaran pembatasan penggunaan gawai di sekolah untuk menekan distraksi digital dan melindungi kesehatan mental murid.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
Disdik Keluarkan SE, Penggunaan Gawai Siswa di Sekolah Dibatasi
Indonesia
Insiden Mobil MBG Tabrak Siswa, Kemendikdasmen Beri Santunan ke Korban
Kemendikdasmen memberikan santunan kepada korban yang tertabrak mobil MBG di SDN 01 Kalibaru, Cilincing.
Soffi Amira - Jumat, 12 Desember 2025
Insiden Mobil MBG Tabrak Siswa, Kemendikdasmen Beri Santunan ke Korban
Indonesia
Buntut Mobil MBG Tabrak Siswa, Pengamat Desak Sekolah Harus Bebas Kendaraan
Insiden itu menunjukkan lemahnya pengawasan mobilitas kendaraan di kawasan sekolah, terlebih saat ada kendaraan logistik yang masuk ke area siswa beraktivitas tanpa pengamanan ketat.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 11 Desember 2025
Buntut Mobil MBG Tabrak Siswa, Pengamat Desak Sekolah Harus Bebas Kendaraan
Indonesia
Mobil SPPG Tabrak Belasan Siswa SDN 01 Kalibaru, BGN Tegaskan Program MBG Tetap Berjalan
BGN menegaskan, bahwa program MBG tetap berjalan meski belasan siswa SDN 01 Kalibaru tertabrak mobil SPPG.
Soffi Amira - Kamis, 11 Desember 2025
Mobil SPPG Tabrak Belasan Siswa SDN 01 Kalibaru, BGN Tegaskan Program MBG Tetap Berjalan
Indonesia
Terungkap, Pengemudi Mobil MBG yang Tabrak Siswa SDN 01 Kalibaru Ternyata Sopir Pengganti
Pengemudi mobil MBG yang tabrak siswa SDN 01 Kalibaru ternyata merupakan sopir pengganti. Insiden ini pun cukup mengejutkan.
Soffi Amira - Kamis, 11 Desember 2025
Terungkap, Pengemudi Mobil MBG yang Tabrak Siswa SDN 01 Kalibaru Ternyata Sopir Pengganti
Indonesia
Pemprov DKI Jamin Biaya Perawatan Korban Kecelakaan Mobil SPPG di SDN 01 Kalibaru
Pemprov DKI Jakarta menjamin biaya perawatan korban kecelakaan mobil SPPG di SDN 01 Kalibaru, Jakarta Pusat.
Soffi Amira - Kamis, 11 Desember 2025
Pemprov DKI Jamin Biaya Perawatan Korban Kecelakaan Mobil SPPG di SDN 01 Kalibaru
Indonesia
19 Siswa di SDN Kalibaru Cilincing Dirawat usai Ditabrak Mobil Pengantar MBG
Sebanyak 19 siswa SDN Kalibaru Cilincing ditabrak mobil pengantar MBG. Seluruh korban dirawat di dua rumah sakit.
Soffi Amira - Kamis, 11 Desember 2025
19 Siswa di SDN Kalibaru Cilincing Dirawat usai Ditabrak Mobil Pengantar MBG
Indonesia
Mobil Tabrak Sejumlah Siswa SDN Kalibaru Cilincing, Sopir Langsung Ditangkap Polisi
Sebuah mobil menabrak sejumlah siswa SDN Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Sang sopir pun langsung ditangkap polisi.
Soffi Amira - Kamis, 11 Desember 2025
Mobil Tabrak Sejumlah Siswa SDN Kalibaru Cilincing, Sopir Langsung Ditangkap Polisi
Indonesia
Prabowo Larang Siswa Sambut Kedatangannya, Pimpinan Komisi X DPR: Biar Bisa Fokus Belajar
Presiden RI, Prabowo Subianto, melarang siswa menyambut kedatangannya. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyampaikan dukungannya.
Soffi Amira - Kamis, 20 November 2025
Prabowo Larang Siswa Sambut Kedatangannya, Pimpinan Komisi X DPR: Biar Bisa Fokus Belajar
Indonesia
Siswa SMP di Tangsel Tewas Diduga Akibat Bully dan Viral, Polisi Lakukan Investigasi Cari Bukti Pidana
Penyidik Polres Tangsel telah mendatangi sekolah untuk meminta keterangan kepala sekolah, wali kelas, serta saksi pelajar yang mengetahui kejadian.
Frengky Aruan - Minggu, 16 November 2025
Siswa SMP di Tangsel Tewas Diduga Akibat Bully dan Viral, Polisi Lakukan Investigasi Cari Bukti Pidana
Bagikan