MerahPutih.com - Anggota Komisi I DPR RI, Farah Puteri Nahlia, mengapresiasi langkah cepat pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri, dalam memulangkan sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla yang sempat ditahan otoritas Israel.
Farah menilai keberhasilan pemulangan para WNI tersebut menunjukkan kerja diplomasi Indonesia yang konsisten dan berorientasi pada perlindungan warga negara di luar negeri.
“Saya mengapresiasi langkah cepat pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri dan seluruh jajaran perwakilan RI yang bergerak intensif melalui jalur diplomatik dan kekonsuleran sehingga sembilan WNI dalam misi kemanusiaan tersebut dapat keluar dari wilayah Israel dengan aman,” ujar Farah kepada wartawan, Jumat (22/5).
Baca juga:
WNI Relawan Global Sumud Flotilla yang Sempat Ditahan Israel Dibebaskan, Pulang lewat Turkiye
Perlindungan WNI di Wilayah Konflik Harus Diperkuat
Menurut Farah, dinamika geopolitik global saat ini semakin kompleks sehingga sistem perlindungan terhadap WNI perlu terus diperkuat agar lebih adaptif, cepat, dan terkoordinasi lintas sektor.
Ia mengatakan konflik di kawasan Timur Tengah bukan hanya menghadirkan ancaman keamanan konvensional, tetapi juga tantangan kemanusiaan yang berdampak pada relawan sipil, pekerja pers, dan warga negara yang berada di wilayah berisiko tinggi.
Dalam situasi konflik sebesar apa pun, keselamatan warga sipil, pekerja kemanusiaan, dan jurnalis harus tetap dihormati sebagai bagian dari prinsip kemanusiaan universal dan hukum internasional,
Anggota Komisi I DPR, Farah Puteri Nahlia.
Soroti Perlindungan Jurnalis di Tengah Konflik
Farah juga menyoroti fakta bahwa sejumlah WNI yang sempat ditahan merupakan jurnalis yang menjalankan tugas jurnalistik dalam misi kemanusiaan internasional. Menurut dia, perlindungan terhadap insan pers di wilayah konflik harus menjadi perhatian komunitas internasional.
“Di tengah derasnya perang informasi global, jurnalisme yang independen dan aman justru semakin penting. Dunia membutuhkan fakta yang utuh, bukan hanya narasi yang saling menyalahkan,” katanya.
Legislator yang membidangi urusan luar negeri, pertahanan, komunikasi, dan keamanan itu menilai Indonesia perlu terus memperkuat diplomasi kemanusiaan yang aktif, tetapi tetap berlandaskan hukum internasional serta penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Baca juga:
9 WNI Relawan Gaza Dibebaskan Israel, Kini Dalam Perjalanan Pulang ke Indonesia
Dorong Mitigasi Risiko bagi Relawan dan Jurnalis
Selain itu, Farah mendorong penguatan sistem mitigasi risiko bagi WNI di kawasan konflik, termasuk peningkatan koordinasi lintas kementerian, jalur komunikasi darurat, pemetaan wilayah berisiko, hingga perlindungan khusus bagi relawan dan jurnalis Indonesia di daerah perang.
Indonesia harus tetap menjadi suara moral yang kuat dalam isu kemanusiaan global. Tetapi pada saat yang sama, negara juga harus hadir secara nyata untuk memastikan keselamatan setiap warga negaranya di mana pun mereka berada,
Anggota Komisi I DPR, Farah Puteri Nahlia.
Sebelumnya, total terdapat sembilan WNI yang ditahan tentara Israel dalam operasi pencegatan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Berikut daftar WNI berdasarkan laporan GPCI:
- Herman Budianto Sudarsono (GPCI - Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa (GPCI - Rumah Zakat) – Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad (GPCI - Spirit of Aqso) – Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171) – Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (Republika) – Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) – Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) – Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) – Kapal Ozgurluk
(Pon)