Headline

Donald Trump Sebut Memo dari Partai Republik Bermasalah

Eddy FloEddy Flo - Senin, 05 Februari 2018
Donald Trump Sebut Memo dari Partai Republik Bermasalah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam sebuah reli di Pensacola, Florida, Amerika Serikat ( ANTARA FOTO/REUTERS/Carlo Allegri)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Presiden Donald Trump menyatakan memo dari anggota kongres Partai Republik bermasalah karena menyerang penegakan hukum federal. Memo tersebut dibuat dalam rangka penyelidikan federal terhadap campur tangan Rusia pada Pilpres Amerika Serikat 2016 silam.

Bagi Donald Trump, memo dari Partai Republik itu menodai independensi lembaga hukum. Sehingga berbekal memo tersebut, Donald Trump mengklaim bahwa tindakannya memecat pengacara khusus Robert Mueller adalah benar. Selain Mueller, Wakil Jaksa Rod Rosenstein yang bertindak sebagai pengawas juga dipecat Trump.

Saat mengirim pesan dari loka wisatanya di Palm Beach, Florida, Donald Trump, Sabtu (3/2) waktu setempat mengatakan memo itu "betul-betul membuktikan kebenarannya", namun menambahkan bahwa "perburuan sasaran di balik Rusia akan terus berlangsung. Mereka tidak melakukan kerja sama dan tidak ada usaha penghalangan". Dia menyebut penyelidikan itu adalah "aib Amerika Serikat".

Gedung Putih mengatakan tidak akan ada perubahan di Departemen Kehakiman sebagai hasil kesimpulan memo tersebut.

Memo itu, yang ditulis anggota Partai Republik di Komite Intelijen Perwakilan AS, yang diketuai Devin Nunes, berpendapat bahwa penyelidikan federal tentang kemungkinan kolusi antara kampanye presiden Trump pada 2016 dan Rusia merupakan produk bias politik terhadap Trump di Biro Investigasi Federal (FBI) dan Departemen Kehakiman.

Trey Gowdy, ketua komite pengawas yang berkuasa dari Partai Republik, tidak setuju dengan Trump dan mengatakan bahwa memo tersebut tidak berdampak pada penyelidikan Rusia.

"Bukan untuk saya, tidak, dan saya sangat terlibat secara integral dalam penyusunannya," kata Gowdy dalam pratinjau wawancara, yang akan disiarkan di CBS "Face the Nation" pada Minggu (4/2).

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, Trey Gowdy mengatakan pekan ini bahwa dia tidak akan mencalonkan dirinya kembali pada November, mengatakan penyelidikan Rusia akan tetap ada terlepas dari sebuah berkas yang pada memo mengatakan bahwa FBI menerima sebuah sumber yang sangat bias terhadap Trump.

"Jadi akan ada penyelidikan Rusia, bahkan tanpa berkas," kata Gowdy.

Donald Trump menyetujui perilisan memo yang sebelumnya diklasifikasikan tanpa proses penyuntingan, terlepas dari keberatan FBI dalam sebuah langkah yang memperdebatkan ketegangan antara Gedung Putih dan penegak hukum senior yang telah ada sejak Trump menjabat.

Partai Demokrat berpendapat bahwa memo empat halaman tersebut salah mengkarakterisasi informasi rahasia yang sangat sensitif dan dimaksudkan untuk mengacaukan penyelidikan kriminal Mueller yang dilaksanakan pada Mei 2017 sebagai hasil awal penyelidikan FBI sebelumnya.

Jerrold Nadler, anggota Partai Demokrat teratas di Komite Kehakiman DPR, mengatakan bahwa keputusan Trump untuk mengizinkan perilisan memo tersebut adalah "bagian dari usaha propaganda terkoordinasi untuk mendiskreditkan, melumpuhkan dan menumbangkan penyelidikan Rusia."

Beberapa anggota Partai Republik juga mengritik penyiaran memo tersebut. John Kasich, gubernur Ohio dan mantan pesaing Trump dalam pencalonan presiden, menyebutnya hal merugikan negara.(*)

#Donald Trump #Amerika Serikat #Rusia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Saksi mata memberi tahu media lokal bahwa mereka melihat seorang pria terlempar dari wahana tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Dunia
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Isak tangis haru berbaur rasa trauma membuncah di San Diego Bay, California, saat kapal induk raksasa Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, akhirnya resmi berlabuh
Wisnu Cipto - Sabtu, 10 Oktober 2026
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Dunia
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Nidal Malik Hasan divonis bersalah karena telah membunuh 13 rekannya sesama tentara AS di sebuah pangkalan militer di Texas pada 2009.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Indonesia
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
"Mereka juga telah melakukan PHK terhadap 6.000 pekerja Amerika dan menggantinya dengan 6.300 pekerja pemegang visa H-1B," kata Vance.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
Dunia
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Gubernur New York Kathy Hochul resmi menetapkan status darurat bencana akibat ledakan wabah campak hingga 4 November 2026. Simak peringatan penting ini!
Wisnu Cipto - Selasa, 06 Oktober 2026
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Dunia
Donald Trump: Biarkan Iran Hancurkan Los Angeles dan San Diego
Donald Trump menyinggung kemungkinan Iran melancarkan serangan terhadap kota di AS.
Yusuf Abdillah - Selasa, 06 Oktober 2026
Donald Trump: Biarkan Iran Hancurkan Los Angeles dan San Diego
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Dunia
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Rektor Cornell University menggambarkan dugaan yang disampaikan perempuan tersebut, yang diidentifikasi sebagai Jane Doe, sebagai hal yang ‘sangat meresahkan’.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Dunia
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Korban mengklaim ia dicekoki ketamin, dianiaya, dan diperkosa tujuh anggota fraternity Chi Phi.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Dunia
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Seorang pekerja laboratorium di Rusia meninggal dunia. Ia diduga terinfeksi virus Pes. Namun, penyebabnya masih misterius.
Soffi Amira - Senin, 05 Oktober 2026
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Bagikan