MerahPutih.com - Digitalisasi dipercaya jadi salah satu “kendaraan” untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi baru Indonesia yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan bekerjasama dengan swasta dalam membantu seluruh pihak (usaha mikro kecil) untuk on boardng dan melakukan servisifikasi
"Upaya tersebut akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan ekspor. Diharapkan dengan melakukan on boarding dan servisifikasi, Indonesia dapat keluar dari middle income trap (stagnanya pendapatan menengah) lebih cepat, yaitu pada 2037,” katanya di Jakarta, Rabu (23/6).
Baca Juga:
Ini Rincian Potensi Ekonomi Digital Indonesia
Ia menambahkan, mendukung upaya adopsi teknologi digital, pemerintah berencana membangun infrastruktur digital dengan perluasan 4G di seluruh desa yang belum terjangkau 4G, membangun pusat data nasional di beberapa wilayah, dan merencanakan spectrum refarming secara bertahap dan piloting implementasi terbatas 5G.
"Kolaborasi serta sinergi dari seluruh stakeholders sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan yang mendukung ekosistem tersebut,” ujar Airlangga.
Airlangga mengatakan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi “kendaraan” menuju ekonomi baru. Indonesia perlu melakukan reformasi struktural untuk keluar dari middle-income trap yang dapat diwujudkan melalui penerapan UU Cipta Kerja dan fokus dalam pembangunan SDM.
"Pemerintah memprioritaskan pembangunan SDM sebagai kunci pemulihan ekonomi dari pandemi dan untuk memajukan Indonesia di era transformasi digital," kata Airlangga.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyampaikan bahwa ekonomi digital Indonesia memiliki prospek yang sangat baik dan berpotensi tumbuh hingga mencapai delapan kali lipat di tahun 2030. Pertumbuhan ekonomi digitalnya diyakini akan tumbuh delapan kali lipat dari Rp632 triliun menjadi Rp4.531 triliun.
E-commerce dipercaya akan memerankan peran yang sangat besar, yaitu 34 persen atau setara dengan Rp1.900 triliun. Kemudian diikuti oleh beberapa hal yang sangat penting, yaitu B2B (business-to-business) dengan besaran 13 persen atau setara dengan Rp763 triliun, health-tech akan berfungsi menjadi Rp471,6 triliun atau 8 persen dari pertumbuhan/
Sedangkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, akan tumbuh dari Rp15.400 triliun menjadi Rp24.000 triliun pada tahun 2030.
"Indonesia akan mempunyai GDP besar lebih dari 55 persen daripada GDP digital ASEAN, jumlahnya kira-kira Rp323 triliun dan akan tumbuh menjadi Rp417 triliun pada tahun 2030," ujar Lutfi. (Asp)

