Diet Yoyo dan Dampaknya Bagi Kesehatan
Diet yoyo sering terjadi karena seseorang ingin menurunkan berat badannya dengan cepat pada waktu tertentu. (Foto: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)
CARA memainkan mainan klasik yoyo sangat mudah. Cukup dengan mengulurkan tali di yoyo, kemudian hempaskan ke bawah. Yoyo akan kembali naik ke atas. Perumpamaan ini seperti diet yoyo yang diambil dari mainan tersebut.
Pola diet yoyo ditandai dengan siklus penurunan dan peningkatan berat badan dalam waktu yang singkat. Mengutip laman Healtline, siklus akan terus berputar dan tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam sebuah penelitian, diet ini umumnya dilakukan oleh perempuan.
Diet yoyo sering terjadi karena seseorang ingin menurunkan berat badannya dengan cepat untuk acara khusus. Namun setelah acara khusus selesai, pola makan atau olahraga yang sebelumnya dilakukan dengan disiplin, kembali seperti awal sebelum melakukan diet.
Baca juga:
Ada beberapa dampak diet yoyo bagi kesehatan. Pertama, meningkatkan risiko terjadinya obesitas. Saat sedang diet, berkurangnya masa lemak dalam tubuh akan membuat kadar hormon yang memberi sinyal kenyang dalam tubuh juga cenderung menurun. Kondisi ini akan membuat tubuh kehilangan sinyal rasa kenyang tersebut sehingga akan membuat rasa lapar lebih sering muncul.
Jika gagal mengendalikannya, maka kamu berpotensi makan lebih banyak dan lebih sering. Dengan begitu, risiko obesitas pun kemungkinan terjadi.
Selain itu, diet yoyo juga meningkatkan risiko terjadinya diabetes. Lemak yang ada di perut lebih besar kemungkinannya menyebabkan diabetes daripada lemak yang disimpan dalam anggota tubuh lain seperti lengan, kaki, atau pinggul.
Baca juga:
Manfaat dari Bubuk Kakao, Bisa Buat Diet
Meskipun diabetes belum terlihat dalam semua penelitian pada manusia terkait diet yoyo, diabetes akan mungkin terjadi pada orang yang memiliki berat badan lebih tinggi dibandingkan sebelum melakukan diet.
Selama diet penurunan berat badan, tubuh kehilangan massa otot serta lemak tubuh. Karena lemak diperoleh kembali lebih mudah daripada otot setelah penurunan berat badan, ini dapat menyebabkan lebih banyak kehilangan otot dari waktu ke waktu. Kehilangan otot selama diet juga menyebabkan penurunan kekuatan fisik.
Efek ini dapat dikurangi dengan olahraga, termasuk latihan angkat beban. Berolahraga dapat memberikan sinyal pada tubuh untuk menumbuhkan otot. Selama penurunan berat badan, kebutuhan protein makanan tubuh juga meningkat. Makan cukup sumber protein berkualitas dapat membantu mengurangi kehilangan otot.
Tidak hanya membawa dampak buruk bagi kesehatan fisik, diet yoyo juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Sebuah studi menyebutkan, turun naiknya berat badan dalam waktu yang singat dapat membuat seseorang merasa frustrasi, menurunnya kepercayaan diri, bahkan mengalami depresi.
Ada beberapa cara untuk menurunkan berat badan yang aman, seperti mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, batasi konsumsi makanan cepat saji, olahraga secara rutin minimal tiga kali seminggu, tidur yang cukup 6-8 jam, dan jangan merokok. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
BPJS Kesehatan Sebut Peserta yang Dinonaktifkan sudah tak Masuk Golongan Syarat Kategori Miskin
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta