MerahPutih.com - Diabetes kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Saat ini, penyakit ini semakin banyak menyerang anak-anak muda hingga usia produktif, menjadikannya ancaman kesehatan yang kian mengkhawatirkan di berbagai kalangan.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes dari pemeriksaan gula darah pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7 persen.
Artinya, terdapat sekitar 30 juta penderita diabetes di Indonesia, namun yang telah terdiagnosis baru berkisar antara 10 hingga 15 juta pasien. Peningkatan kasus ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, melainkan juga perlahan menyasar usia produktif hingga anak-anak.
Salah satu penyebab utama meningkatnya kasus ini adalah perubahan gaya hidup. Minimnya aktivitas fisik serta pola makan yang tidak seimbang turut memperbesar risiko seseorang terkena diabetes. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah krusial dalam upaya pengendalian penyakit ini.
Baca juga:
Tak Hanya Makanan Manis, Penelitian Terbaru Ungkap Daging Picu Diabetes Tipe 2
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa diabetes memberikan dampak besar terhadap sistem kesehatan nasional.
Penyakit ini juga dapat memicu berbagai komplikasi lain seperti hipertensi, hingga berkembang menjadi penyakit ginjal, jantung, katarak, dan gangguan kesehatan lainnya jika tidak ditangani dengan baik. Ia juga menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus sejalan dengan bertambahnya beban pembiayaan kesehatan.
Data BPJS Kesehatan turut menunjukkan tren peningkatan, dengan kasus diabetes naik sebesar 40 persen serta biaya penanganan gagal ginjal melonjak hingga 476 persen.
Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan pendekatan promotif dan preventif, serta keterlibatan berbagai pihak agar penanganan diabetes dapat berjalan lebih efektif melalui kolaborasi yang solid.
“Penanganan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor resikonya, deteksi dini dan pengobatan. Pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan, khususnya pada aspek promotif dan preventif. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian diabetes," ucapnya.
Baca juga:
Masuk 10 Besar Dunia, Indonesia Catatkan Kasus Diabetes Tertinggi di Asia Tenggara
Sementara itu, Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Em Yunir, menilai bahwa pemahaman masyarakat terhadap diabetes masih perlu ditingkatkan. Ia menekankan bahwa diabetes merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang, sehingga perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dalam pengelolaannya.
"Dengan intervensi yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan secara signifikan. Selain itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan industri sangat diperlukan. Edukasi berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam pengendalian diabetes di Indonesia,” tutupnya. (Far)