MerahPutih.com - Tahun 2025 diperkirakan menjadi salah satu tahun yang penuh tantangan bagi masyarakat terkait daya beli. Terutama kebijakan yang diterapkan pemerintah membawa dampak langsung pada kelas menengah.
Salah satu kebijakan yang menonjol adalah kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen. Selain itu, program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang mulai diimplementasikan pada 2024 juga menjadi sumber tekanan baru.
Di mana, program ini mewajibkan pekerja dan pemberi kerja menyisihkan sebagian pendapatan untuk dana perumahan.
Ekonom Achmad Nur Hidayat menilai, Indonesia menghadapi tekanan dari sejumlah kebijakan ekonomi yang diberlakukan pada 2024, yang secara signifikan memengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah.
Baca juga:
Pemerintah Harus Siapkan Program Jaga Daya Beli Masyarakat Rentan Akibat Kenaikan PPN
"Kelas menengah Indonesia perlu mengambil langkah strategis guna bertahan dan tetap relevan di tengah ketidakpastian tersebut,” kata Achmad di Jakarta, Senin (30/12).
Achmad berujar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengatur ulang prioritas pengeluaran. Dalam situasi ini, kebutuhan primer harus menjadi fokus utama, sementara pengeluaran untuk barang konsumsi yang tidak mendesak perlu dikurangi.
Membuat anggaran bulanan yang ketat dapat membantu memastikan pengeluaran tidak melebihi pendapatan, sekaligus memberikan ruang untuk menabung.
"Selain itu, diversifikasi sumber pendapatan menjadi solusi penting,” tutur Achmad yang juga ekonom dari UPN Veteran Jakarta ini.
Kelas menengah disebut Achmad juga perlu mencari peluang usaha sampingan atau investasi pada aset-aset yang memiliki risiko rendah tetapi memberikan pengembalian yang stabil.
Investasi dalam reksa dana pendapatan tetap atau obligasi pemerintah dapat menjadi pilihan yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Manfaatkan juga peluang di sektor ekonomi digital, seperti menjadi freelancer atau menjual produk secara online, untuk menambah penghasilan,” sebut Achmad.
Peningkatan literasi keuangan juga menjadi kunci untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan keuangan, investasi, dan perlindungan aset, kelas menengah dapat menghindari jebakan utang konsumtif yang hanya akan memperburuk kondisi keuangan mereka di masa depan.
Lalu, kelas menangah juga diminta menghindari penggunaan kartu kredit atau pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, dan prioritaskan tabungan untuk dana darurat.
Kebijakan pemerintah juga perlu dimanfaatkan secara bijak. Pastikan data diri terdaftar dengan benar agar dapat mengakses subsidi energi atau bantuan sosial yang tersedia.
Bagi yang memiliki usaha kecil, manfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah untuk mendukung keberlangsungan usaha.
"Kerja sama dengan komunitas atau koperasi juga dapat membantu menciptakan jaringan pendukung yang kuat di tengah tantangan ekonomi," katanya. (Knu)