MerahPutih.com - Momen Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya meningkatkan konsumsi masyarakat, tetapi juga mendorong pergerakan sektor pariwisata dan ekonomi di berbagai daerah.
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Indef, Nur Komaria mengatakan, periode Lebaran secara konsisten menjadi waktu yang mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor, termasuk pariwisata, perhotelan, transportasi, dan logistik.
“Di musim Lebaran ini biasanya memang konsumsi masyarakat meningkat dan juga ada sektor-sektor yang meraup untung, seperti sektor makanan-minuman atau mungkin pangan, kemudian ada sektor pariwisata dan perhotelan, sektor transportasi dan logistik, dan kemudian ada juga sektor e-commerce,” ujarnya.
Peningkatan mobilitas masyarakat selama libur Lebaran membuka peluang bagi destinasi wisata domestik untuk menarik lebih banyak wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Baca juga:
Operasi Ketupat Jaya 2026 Dimulai 13 Maret, 6.800 Personel Amankan Arus Mudik Lebaran
Indonesia memiliki potensi besar di sektor pariwisata karena didukung oleh kekayaan sumber daya alam dan keragaman destinasi wisata. Namun, untuk memaksimalkan potensi tersebut diperlukan penguatan infrastruktur serta peningkatan kenyamanan bagi wisatawan.
Ia mencontohkan sejumlah destinasi unggulan Indonesia yang memiliki daya tarik kelas dunia, seperti Raja Ampat di Papua Barat.
Destinasi tersebut dikenal secara global karena keindahan alamnya dan berpotensi menjadi magnet wisatawan jika didukung oleh fasilitas dan aksesibilitas yang memadai.
Selain infrastruktur, pengembangan ekosistem pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal dan pelaku UMKM juga dinilai penting.
Sektor pariwisata tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus terhubung dengan berbagai sektor pendukung seperti kuliner, kerajinan, hingga jasa perjalanan.
"Saya rasa pemerintah juga bisa memberikan stimulus, program-program, kerja sama dengan penyedia provider pariwisata seperti tour and travel untuk memberikan insentif," katanya.
Perkembangan teknologi digital juga menjadi faktor pendorong dalam penguatan sektor pariwisata. Kemudahan pembayaran digital, misalnya melalui QRIS, semakin memudahkan wisatawan dalam bertransaksi di berbagai destinasi.
Dari catatan pihaknya, penggunaan pembayaran digital menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada kuartal II 2025, transaksi pembayaran digital bahkan tumbuh hingga 148,5 persen secara tahunan.
"Dukungan infrastruktur digital yang semakin merata, mendorong minat masyarakat untuk berwisata ke berbagai daerah di Indonesia.," katanya. (*)