MerahPutih.com - Kondisi Ekonomi Makro mengalami tekanan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (9/3) sore, melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp 16.925 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eksternal dan internal, terutama lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh level sekitar 92 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2020.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, daya beli masyarakat masih tetap aman dan perekonomian masih jauh dari krisis usai melakukan inspeksi dadakan (sidak) di Pasar Tanah Abang, Jakarta.
Purbaya mengaku, mengunjungi Pasar Tanah Abang lantaran mendengar spekulasi bahwa perekonomian nasional sedang menuju resesi, yang salah satu indikasi terduga adalah pasar yang makin sepi.
Baca juga:
Purbaya Yakinkan APBN Tidak Bakal Boncos Akibat Perang di Iran
Sementara, berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa perekonomian nasional dalam kondisi yang baik.
“Ternyata betul, daya beli masih ada, orang masih belanja, dan pasar masih ramai. Saya datang ke sana, tiba-tiba banyak orang ngumpul. Artinya, di sekeliling kita kan masih banyak orang yang lagi belanja,” ujarnya.
Bendahara negara menerjemahkan kerumunan orang yang belanja di pasar itu sebagai sinyal bahwa ekonomi masih dalam kondisi yang terjaga. Maka dari itu, perekonomian Indonesia jauh dari potensi resesi.
“Artinya, daya beli masyarakat sepertinya sedang membaik dan kita tidak resesi, apalagi krisis. Kita jauh dari krisis. Jadi, ekonomi kita sedang bagus,” tambahnya.
Ia memastikan bakal mengambil kebijakan yang bisa meredam dampak lonjakan harga minyak ketika harga sudah di luar kendali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) nantinya.
"APBN akan dipersiapkan semaksimal mungkin untuk menjadi peredam atas gejolak ekonomi (shock absorber),"
Terkait kenaikan harga minyak, Purbaya memberi waktu satu bulan untuk mengevaluasi potensi penyesuaian APBN. Saat ini rerata perkembangan harga minyak masih di bawah kapasitas maksimal APBN.
“Jangan cepat menyimpulkan harga akan 100 dolar AS terus. Kami akan lakukan asesmen dari waktu ke Waktu," ungkapnya.