MerahPutih.com - Penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dijanjikan tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Hal itu dipastikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, meski belum merinci skema pembiayaan yang akan digunakan.
Menkeu menegaskan pemerintah bakal meminimalkan penggunaan dana APBN untuk menyelesaikan kewajiban utang proyek tersebut.
Whoosh itu walaupun APBN di pemerintah, tapi kan kita kecilkan semaksimal mungkin dana APBN yang dipakai yang bayar Whoosh, tapi dikelola oleh kami,
kata Purbaya.
Baca juga:
Pramono Ajak Swasta Join Garap Rute Baru LRT Jakarta ke JIS dan Stasiun Whoosh Halim
Ia belum mengungkapkan mekanisme pembiayaan yang akan ditempuh. Ia pun juga belum menjelaskan sumber pendanaan yang akan digunakan untuk menyelesaikan utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Menkeu mengisyaratkan pemerintah akan memanfaatkan berbagai instrumen di luar APBN, termasuk melalui Special Mission Vehicle (SMV).
Enggak, kan saya punya banyak SMV (Special Mission Vehicle),
katanya.
Sementara itu, terkait kemungkinan penggunaan dana hasil penerbitan Panda Bond untuk membiayai utang Whoosh, Bendahara Negara mengatakan instrumen tersebut saat ini diprioritaskan untuk menutup defisit APBN.
Ini kan (Panda Bond) untuk nutup defisit kita. Nanti ke depan apakah pakai itu, nanti kita lihat seperti apa,
ujar Purbaya.
Pemerintah Indonesia menanggung beban utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang nilainya mencapai USD 5,4 miliar atau sekitar Rp116 triliun. Di mana pembayaran pokok akan dimulai 2027.

