Celios Desak Reset Ekonomi Indonesia, Copot Menkeu Sampai Pemberian Subsidi Tunai ke Rakyat
Ilustrasu pekerja.
MerahPutih.com - Kondisi ekonomi Indonesia dalam beberapa pekan terakhir dinilai merupakan akumulasi persoalan ketimpangan, ketidakadilan pajak, efisiensi anggaran, hingga melonjaknya utang pemerintah.
Untuk itu, Center of Economic and Law Studies (Celios) menyerukan Reset Ekonomi Indonesia melalui delapan tuntutan kebijakan sebagai langkah pemulihan.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan solusi riil dan implementatif perlu segera ditempuh agar kepercayaan publik pulih, APBN sehat, serta daya beli masyarakat terlindungi.
"Fakta di lapangan menunjukkan beban fiskal meningkat di tengah pelemahan konsumsi, sementara persepsi publik terhadap akuntabilitas belanja negara memburuk,” ujar Bhima dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (6/9).
Baca juga:
Bhima menegaskan, persoalan ketidakadilan pajak harus segera diselesaikan. Penerapan pajak kekayaan (wealth tax), percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, serta revisi menyeluruh regulasi perpajakan, termasuk penurunan tarif PPN menjadi 8 persen untuk memberi stimulus kepada UMKM dan kelas menengah-bawah.
“Langkah ini bertujuan memperkuat basis penerimaan yang progresif dan menahan pelemahan permintaan domestik,” jelasnya.
Selain itu, yang segera bisa dilakukan adalah pencopotan Menteri Keuangan sebagai nahkoda fiskal.
Lembaga riset ini meminta kenaikan tunjangan DPR dibatalkan, gaji anggota DPR dibatasi maksimal tiga kali UMP DKI Jakarta, pembentukan Komite Remunerasi Independen bagi pejabat negara, serta keterbukaan dana reses DPR sebagai informasi publik.
Celios juga meminta pemangkasan alokasi APBN yang dinilai tidak prioritas, termasuk penghematan belanja Polri, serta evaluasi anggaran program MBG, Koperasi Desa Merah Putih, dan Danantara.
"Anggaran hasil efisiensi diusulkan dialihkan ke subsidi tunai langsung bagi kelompok rentan," katanya.
Celios juga mendorong restrukturisasi utang negara melalui penyesuaian tenor maupun kupon, serta moratorium utang baru hingga indikator ruang fiskal kembali membaik.
Terkait tata kelola, Celios mendesak pemerintah menjalankan Putusan MK tentang larangan rangkap jabatan menteri maupun wakil menteri di kursi komisaris, khususnya di sektor investasi dan hilirisasi.
Dan juga, kata Bhima, proyek Strategis Nasional seperti IKN dan Food Estate.
"Ini harus dihentikan karena terbukti merugikan keuangan negara,” tegas Bhima. (Pon)
Bagikan
Ponco Sulaksono
Berita Terkait
Sinyal Tukaran Posisi Deputi Gubernur BI Juda Agung dengan Wamenkeu Thomas Djiwandono
Deputi Gubernur BI Juda Agung Mundur, Keponakan Prabowo Mencuat Jadi Pengganti
Menkeu Purbaya Kejar Penyelundup Beras Impor di Kepulauan Riau
40 Perusahaan Baja Terdeteksi Ogah Bayar Pajak, Menkeu Purbaya Bakal Sidak Langsung
Targetkan Pembeli Rokok Ilegal, Purbaya Pertimbangkan Ubah Struktur Cukai Hasil Tembakau
Pemerintah Tambah Utang Rp 736,3 Triliun di 2025
Defisit APBN Melebar, Ekonomi Downfall
Erick Thohir Ungkap Skema Bonus Atlet SEA Games 2025 Masih Dibahas Kemenkeu
Kabar Gembira! Dana Tunggu Korban Banjir Sumatera Rp 600 Ribu Per Bulan Segera Cair
Mendagri Tito Ungkap Bantuan 30 Ton di Medan Ternyata Bukan dari Pemerintah UEA