MerahPutih.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta didorong untuk memperluas zona bebas air tanah seiring meningkatnya cakupan layanan air bersih perpipaan di ibu kota.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT PAM Jaya (Perseroda) Arief Nasrudin dalam diskusi Balkoters Talk bertajuk "Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 6 Menuju Jakarta Kota Global" di Pressroom Balai Kota DKI, Rabu (11/3).
Arief mengatakan, perluasan zona bebas air tanah menjadi penting karena cakupan layanan air perpipaan di Jakarta kini telah mencapai lebih dari 80 persen.
"Sebenarnya ada satu hal yang memang saya ingin kuatkan, zona bebas air tanah. Ini yang sedang saya mintakan sama Pemprov DKI gitu ya, diperluas zona bebas air tanahnya, karena cakupan kami sudah di 80 persen atau 82 persen nanti sampai di tahun ini," kata Arief.
Menurut dia, gedung-gedung tinggi di Jakarta yang telah mendapatkan suplai air bersih dari PAM Jaya seharusnya tidak lagi menggunakan air tanah.
"Saya sudah harus menyatakan law enforcement bahwasannya gedung tinggi yang sudah airnya tersupai, stop ya. Enggak boleh lagi pakai air tanah," imbuhnya.
Baca juga:
Semua Gedung Jakarta Dilarang Sedot Air Tanah, 100% Wajib Pakai Pasokan PAM Jaya
Arief menjelaskan, eksploitasi air tanah yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius, salah satunya penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah.
"Sangat jelas rasanya kalau kita melakukan eksploitasi air tanah, walaupun itu ada pemberian Tuhan gitu ya, bisalah gunakan dengan secara paksa dan maksimal, lihat kejadiannya sekarang sudah banyak banget," ungkapnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah daerah di Indonesia yang mengalami penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang tidak terkendali.
"Bahkan sekarang sudah sampai di Semarang, Tegal gitu ya, enggak cuma Aceh yang tiba-tiba ada sinkhole gitu ya, yang kemudian mulai turun, tanah mulai turun, turun, turun, dan terus turun," ucapnya.
Arief menilai ketersediaan air bersih merupakan salah satu faktor penting jika Jakarta ingin menyandang status sebagai kota global.
Menurut dia, tidak masuk akal jika kota dengan ambisi global masih menghadapi persoalan mendasar terkait akses air bersih perpipaan.
"Lucu rasanya kalau misalkan menjadi kota global, tapi belum selesai gitu dengan air bersih, dengan perpipaan," tuturnya.
Ia menyebutkan bahwa cakupan layanan air bersih perpipaan di Jakarta saat ini telah mencapai 80,24 persen.
Jaringan distribusi air tersebut memiliki panjang pipa sekitar 12.835,21 kilometer dengan jumlah pelanggan mencapai 1.178.022 dan distribusi air sebesar 22.583 liter per detik (LPS).
Baca juga:
PAM Jaya Bagikan 2.000 Toren Air Gratis untuk Warga Jakarta hingga 2026
Arief menambahkan, PAM Jaya terus meningkatkan layanan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, ketersediaan air bersih memiliki dampak luas bagi kehidupan masyarakat serta pembangunan kota, mulai dari sektor lingkungan, kesehatan, sosial budaya, hingga ekonomi.
"InsyaAllah target kami di 2029 nanti cakupan layanan sudah mencapai 100 persen dengan panjang pipa 16.234 kilometer dan suplai air 31.563 LPS," pungkas Arief.
Berdasarkan data PAM Jaya, sekitar 92 persen sumber air baku yang digunakan Jakarta berasal dari luar wilayah ibu kota, terutama dari Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sementara itu, hanya sekitar 8 persen yang berasal dari sumber air di Jakarta.
Untuk air olahan, sekitar 88 persen berasal dari luar Jakarta dan 12 persen diolah dari sumber air di dalam wilayah Jakarta. (Asp)

