MerahPutih.com - Komisi B DPRD DKI Jakarta bersama PAM Jaya meninjau reservoir PAM Jaya di Pondok Kopi, Jakarta Timur, dan Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (21/7).
Kunjungan kerja tersebut dipimpin Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh. Turut hadir anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, yakni M Taufik Zoelkifli, Ade Suherman, Wa Ode Herlina, Pandapotan Sinaga, Jupiter, Wita Susilowati, dan Francine Eustacia.
Nova mengatakan, peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut rapat kerja Komisi B bersama PAM Jaya yang sebelumnya membahas upaya penurunan Non-Revenue Water (NRW).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga melihat langsung reservoir berkapasitas sekitar 5 juta liter di Pondok Kopi dan 20 juta liter di Cilincing.
Kedua reservoir itu berfungsi memperkuat pasokan air bersih bagi wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
Baca juga:
PAM JAYA Gelar Union Gathering 2026, Perkuat Kolaborasi demi Target Air Minum 100 Persen
Komisi B Dukung Upaya PAM Jaya Tekan NRW
Nova menegaskan Komisi B DPRD DKI mendukung langkah PAM Jaya dalam menekan angka NRW atau kehilangan air melalui berbagai strategi.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah market sounding untuk peremajaan jaringan pipa dengan nilai sekitar Rp 22,8 triliun.
"Peninjauan ini juga merupakan tindak lanjut dari rapat kerja kami bersama PAM JAya yang membahas persoalan Non-Revenue Water (NRW). Tadi Pak Direktur Utama menjelaskan bahwa ternyata NRW tidak hanya soal kebocoran pipa seperti yang selama ini dipahami masyarakat," ujar Nova di Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (21/7).
Ia menjelaskan, berdasarkan paparan PAM Jaya, NRW terdiri atas tiga kategori, yakni konsumsi resmi tak berrekening (unbilled authorized consumption), kehilangan komersial (commercial loss), dan kehilangan fisik (physical loss).
Ketiga komponen tersebut menjadi dasar dalam menghitung tingkat kehilangan air.
Selain memahami konsep NRW, Komisi B juga menyoroti pentingnya memperluas sambungan rumah agar air yang telah diproduksi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Jangan sampai air hanya mengalir atau tersimpan di jaringan pipa tanpa tersambung ke rumah-rumah warga. Dengan bertambahnya sambungan rumah, diharapkan angka NRW bisa turun dari tiga kategori yang tadi dijelaskan,
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh.
Peremajaan Jaringan Pipa Jakarta Butuh Investasi Besar
Nova menambahkan, PAM Jaya juga menjelaskan bahwa penggantian seluruh jaringan pipa sepanjang sekitar 13.000 kilometer di Jakarta membutuhkan biaya yang cukup besar.
Karena itu, perusahaan akan melakukan market sounding untuk menjaring skema pendanaan yang tepat.
"Saya melihat langkah yang disiapkan PAM Jaya cukup komprehensif dalam menyelesaikan persoalan kebocoran air. Kami dari Komisi B tentu mengapresiasi upaya PAM Jaya yang terus bekerja keras untuk menurunkan angka NRW," ucapnya.
Baca juga:
Perawatan IPA Hutan Kota, PAM Jaya Sediakan Air Gratis hingga Potongan Tagihan bagi Pelanggan
PAM Jaya Targetkan Market Sounding Desember 2026
Sementara itu, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan penurunan NRW menjadi salah satu program prioritas perusahaan.
Menurutnya, definisi NRW mengacu pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 18 Tahun 2007 yang membagi kehilangan air ke dalam tiga kategori, yakni konsumsi resmi tak berrekening, kehilangan komersial, dan kehilangan fisik.
Arief mengungkapkan, PAM Jaya menargetkan market sounding dilakukan pada Desember 2026 sebagai langkah awal menjajaki investasi penggantian jaringan pipa.
"Dalam waktu dekat kami akan melakukan market sounding. Target waktunya sekitar bulan Desember. Namun kami harus berhati-hati karena kebutuhan investasinya cukup besar. Kami harus menghitung secara cermat apakah investasi sebesar itu nantinya dapat memberikan pengembalian yang memadai melalui skema business to business (B2B)," kata Arief.
Ia menegaskan kondisi keuangan PAM Jaya saat ini masih sehat sehingga setiap keputusan investasi harus dilakukan secara matang.
Karena itu seluruh perhitungan harus dilakukan secara sangat hati-hati agar program ini berjalan dengan baik, sesuai arahan Ketua Komisi B dan masukan dari seluruh anggota Komisi B yang hari ini melakukan kunjungan,
Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin.
(Asp)

