Bukan Sekadar Finansial, Womenpreneur Juga Butuh Pelatihan
Perempuan juga bisa berhasil dalam berbisnis. (Foto: Unsplash/Humphrey Muleba)
PERUSAHAAN teknologi SICRLO melakukan riset di kuartal pertama 2022 yang menunjukkan bahwa dukungan untuk pelaku usaha perempuan atau womenpreneur bukan hanya dari segi finansial, tetapi juga dari segi non-finansial seperti pelatihan.
"Masih dibutuhkan peran aktif berbagai pihak agar womenpreneur bisa mengembangkan usahanya secara konsisten dan ekspansi," ujar CEO sekaligus Founder SIRCLO, Brian Marshal, dalam keterangan resminya, dikutip dari ANTARA, Jumat (22/4).
Untuk bisa mengembangkan bisnisnya ke tingkat yang lebih tinggi, womenpreneur di Indonesia membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Secara finansial, beberapa hal utama yang paling dibutuhkan responden adalah dukungan pemerintah dalam hal permodalan dan kemudahan akses pinjaman/modal, baik pada institusi formal seperti perbankan maupun institusi informal seperti P2P lending.
Baca juga:
Dukungan non-materiil yang paling banyak diminta oleh womenpreneur adalah pelatihan digital marketing, program pemerintah untuk UMKM, dan pelatihan pemanfaatan media sosial. Dalam riset yang dilakukan, ditemukan juga bahwa mayoritas womenpreneur (65 persen) adalah reseller yang usia bisnisnya berkisar antara satu sampai dua tahun.
Di sisi lain, mayoritas womenpreneur menjalankan tipe usaha mikro, yakni 56 persen menjalankan usahanya sendiri tanpa karyawan, 26 persen memiliki satu sampai dua karyawan, dan 10 persen memiliki tiga sampai lima karyawan. Lalu sebagian besar usaha yang dijalankan womenpreneur termasuk di bidang fesyen (32 persen), kuliner (27 persen), ritel (26 persen), kecantikan (17 persen), dan beberapa usaha lainnya di bidang kesehatan, kerajinan, pendidikan agrobisnis, dan travel.
Baca juga:
Dari segi jenis usaha yang paling banyak dijalankan mereka adalah usaha rumahan (49 persen) dan sebanyak 46 persen tidak memiliki toko, gudang, atau badan usaha. Sedangkan untuk omzet yang diperoleh womenpreneur Indonesia (87 persen) berada di bawah Rp 15 juta per bulan atau di bawah Rp 200 juta setahun.
Dalam menjalankan bisnis, motivasi mereka adalah tidak ingin terlalu bergantung pada pasangan dalam hal finansial (52 persen), mencari kesibukan dan aktualisasi diri (50 persen), dan menambah pemasukan utama yang dirasa cukup dalam memenuhi kebutuhan (44 persen).
SICRLO Group pun terus meningkatkan jumlah keterlibatan pengusaha perempuan di dalam ekosistemnya. Hingga saat ini, sebanyak 65 persen dari pengusaha berskala mikro, kecil, hingga menengah dalam ekosistem SIRCLO Group adalah perempuan. Melalui tiga lini bisnis yakni SICRLO Store, IbuSibuk dan WarungPintar, SIRCLO fokus meningkatkan pertumbuhan bisnis sesuai dengan spesialisasi masing-masing. (and)
Baca juga:
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
'Summarecon Discovery', Pengalaman Visual Perjalanan 50 Tahun Bisnis Properti
Sosok Hans Patuwo yang Jebolan Universitas dan Perusahaan Ternama di AS, Calon ‘Orang Nomor Satu’ di GoTo
Alasan Prahara Banyak Startup Bangkrut & Gagal Versi BRIN
FLEI 2025 Dorong Jenama Lokal Tembus Pasar Global, Kadin Sebut Potensi Ekspor maki Terbuka
Dharma Jaya Catat Lonjakan Bisnis 190 Persen Sambil Jaga Ketahanan Pangan
‘KPop Demon Hunters’ Mewarnai Lorong Camilan di Korea Selatan, dari Mi Instan hingga Cake Bikin Perusahaan Cuan Besar
Tersangkut Kasus Pajak, Ketua Ferrari Jalani Hukuman Kerja Sosial
Unsur Politis Harus Dihindari Dalam Rencana Bisnis Kopdes, Bisa Gagal Jika Ambil Alih Bisnis Eksisting
Pendapatan KAI Melonjak 29 Persen, Catatkan Laba Bersih Rp 2,21 T di 2024
Indonesia Ingin Ada Peluang Bisnis Baru Dengan Prancis