Budaya Jajanan Kaki Lima Singapura Masuk Warisan Budaya Tak Benda UNESCO
Pemandangan Kaki Lima Singapura di malam hari. (Unsplash-Christian Chen)
INGAT adegan Nick Young, Colin Khoo dan Araminta Lee di film Crazy Rich Asians menyantap hidangan kaki lima di pusat jajanan paling ikonik di Singapura?
Baca juga:
Kepopuleran film garapan sutradara Jon M. Chu tersebut memantik situs resmi Michelin Guide berpusat di New York merekomendasi banyak tempat makan sesuai lokasi syuting di Singapura.
Bahkan, tradisi makan komunal atau budaya jajanan kaki lima Singapura masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda Manusia usungan UNESCO.
Badan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut mengumumkan hal tersebut pada Rabu (16/12) lalu, setelah Singapura hampir dua tahun mengajukan tawaran.
Baca juga: Singapura Pakai Drone untuk Terapkan Social Distancing
“Pusat-pusat ini berfungsi sebagai 'ruang makan komunitas' tempat orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul dan berbagi pengalaman bersantap sambil sarapan, makan siang, dan makan malam,” kata UNESCO dikutip Reuters.
Pusat jajanan Singapura didirikan sebagai lokasi penampungan mantan pedagang kaki lima 'pedagang asongan', dalam upaya membersihkan pulau tersebut pada tahun 1970-an. Caranya dengan menyajikan berbagai hidangan murah kepada penduduk setempat serta menyediakan suasana sosial.
Koki selebriti ternama seperti Anthony Bourdain dan Gordon Ramsay telah memanjakan diri dengan hidangan lokal, nasi ayam, di pusat jajanan di negeri dengan ikon Singa. Film Crazy Rich Asians menonjolkan bintang-bintangnya menyelipkan piring-piring bertumpuk di pasar malam.
Namun, budaya jajanan Singapura menghadapi tantangannya. Usia rata-rata para pedagang kaki lima di negara kota ini telah mencapai 60 tahun. Sementara, kaum muda Singapura semakin menghindari dapur sempit dan berkeringat dan lebih memilih pekerjaan kantoran.
Pandemi COVID-19 juga memberikan pukulan telak kepada pedagang kaki lima. Pandemi menghentikan laju turis nan biasa ke pusat-pusat jajanan tersebut, sementara penduduk setempat bahkan dilarang makan di luar selama beberapa bulan selama lockdown sejak awal tahun 2020.
Singapura harus menyerahkan laporan setiap enam tahun ke UNESCO, dan menunjukkan upaya serius melindungi dan mempromosikan budaya jajanan kaki lima. (*)
Baca juga: Singapura Tak Selamanya Mahal
Bagikan
Yudi Anugrah Nugroho
Berita Terkait
Syahbandar Larang Kapal Wisata Labuan Bajo Berlayar Malam Hari
Kereta Panoramic Jadi Favorit Wisata Nataru 2025-2026, Pelanggan Capai 11.819 Orang
Cirebon Jadi Tujuan Pariwisata Baru saat Nataru 2026, KAI Catat 274 Ribu Penumpang Kereta Api Turun dan Naik
Penumpang KA Panoramic Tembus 150 Ribu Orang per Tahun, Bukti Naik Kereta Jadi Tren Baru Berlibur
Menikmati Keindahan Senja di Pantai Pattaya, Wajah Lain Wisata Alam Thailand
Teater Bintang Planetarium Buka Sampai April 2026, Fasilitas Canggih Siap Bikin Pemuda Jakarta Pintar
30 Kuliner Khas Riau yang Wajib Dicoba: Cita Rasa Melayu yang Kaya Rempah dan Sulit Dilupakan
Setelah Kemalingan, Museum Louvre Alami Kebocoran yang Merusak Koleksi Buku
Merayakan Malam Tahun Baru ala Argentina, Menikmati Torta Galesa hingga Asado
Dieng Kini Berstatus Geopark Nasional, Pemerintah Didorong Fokus Kejar Pengakuan UNESCO Demi Cuan Global