BNPB Ungkap Alasan Larang Masyarakat Tanam Sayuran di Lahan Miring
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo. (Foto: Dewan Ketahanan Nasional)
MerahPutih.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengatakan larangan menanam sayuran di lahan miring harus tegas agar longsor serupa di Sukabumi tidak terjadi.
"Harus ada upaya yang keras, yang sistematis dan serius untuk tidak lagi menanam sayuran di kemiringan," kata Doni di sela peninjauan area longsor di Kampung Cimapag, Sukabumi, Jumat (11/1).
Dia mengatakan, salah satu penyebab bencana longsor di Cimapag karena pada bagian atas ditanami padi sehingga dalam jangka waktu lama tanah gembur dan bergerak menutup perkampungan di bawahnya.
Menurut dia, aturan soal larangan menanam sayuran dan tanaman lain yang tidak bisa menjaga struktur tanah sudah ada. "Tetapi karena dibiarkan akhirnya masyarakat, ya, mungkin juga tidak memahami, menjadi korban," katanya.
Dia mengatakan di Cimapag di bagian mahkota longsor adalah tanaman padi.
"Kalau padi jelas nanti akan ada air. Karena itu, risikonya terjadi tanah longsor," kata dia.
Cimapag, kata dia, hanya salah satu contoh tanah miring ditanami jenis sayuran. "Ke depan, di kawasan itu dan daerah lain harus dipertegas aturan itu," katanya.
Sebagai gantinya, lanjut dia, tanaman yang harus ditanam di kawasan rentan longsor adalah pepohonan yang memiliki akar kuat sehingga mampu menjaga struktur tanah.
"Bukan hanya di tempat ini, tetapi di banyak daerah. Harus ada solusi untuk mengganti jenis pohon," katanya.
Dia mengatakan sebaiknya tanaman seperti padi tidak lagi ditanam di area miring. Padi dapat diganti tanaman lain yang lebih dapat menjaga struktur tanah agar tidak labil.
"Nah pohon yang mungkin sekelas padi yang juga bisa memberikan hasil yang mungkin lebih baik dari padi menurut saya juga tidak sedikit, seperti serai wangi," kata dia.
Serai wangi, kata dia, setelah ditanam selama tujuh bulan bisa dipanen dan harganya tidak kalah dibanding padi, bahkan bisa lebih tinggi. "Serai wangi itu bisa menahan longsor," tandasnya.
Bagikan
Berita Terkait
Total Kerusakan dan Kerugian Bencana Alam di Sumbar Capai Rp 33,5 Triliun
Lalin Jembatan Bailey Bireuen Aceh-Medan Gantian Tiap 1 Jam, Buka-Tutup Hingga September
Ribuan Rumah di 14 Desa Karawang Teredam Banjir, 27 Ribu Warga Terdampak
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Sumatera Barat Masuki Fase Pemulihan, BNPB Tekankan Validasi Lahan Aman Hunian
Kemenhut Bentuk Tim Percepatan Pembersihan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatra
Kapolda Ajak Masyarakat Aceh Tamiang Jadikan Lumpur Sisa Banjir untuk Media Tanam Tumbuhan
Korban Bencana Sumatra Tembus 1.189 Orang, 195 ribu Jiwa Masih Bertahan Hidup di Tenda Pengungsian
Enam Perusahaan di Ujung Tanduk, KLH Siapkan Gugatan Triliunan Atas Tragedi Longsor Sumatra
Akses Air Bersih Warga Aceh Dikebut, Pemerintah Tambah 57 Titik Sumur Bor