MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, Jumat (5/6), Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026.
Prediksi tersebut telah disampaikan BMKG sejak Maret 2026 dan diperkuat oleh rilis World Meteorological Organization (WMO) pada 2 Juni 2026.
Kami telah menyampaikan sejak bulan Maret bahwa tahun ini akan terjadi fenomena El Nino. Kemudian pada tanggal 2 Juni kemarin, WMO juga telah merilis bahwa El Nino akan terjadi pada tahun 2026,
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
El Nino dan Musim Kemarau Fenomena Berbeda
Faisal menjelaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, meskipun keduanya dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei 2026, indeks ENSO telah mencapai +1,0 yang menunjukkan kondisi El Nino.
Pada periode yang sama, sekitar 28 persen wilayah Indonesia juga telah memasuki musim kemarau.
Menurut BMKG, kombinasi kedua kondisi tersebut berpotensi menyebabkan curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi klimatologis normal di sejumlah wilayah.
Baca juga:
Waspada El Nino Godzilla, Ini 7 Cara Bertahan di Musim Kemarau Panjang
Khusus di Jawa Barat, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, sementara beberapa wilayah berpotensi mengalami kemarau hingga September 2026.
Curah hujan selama periode tersebut diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah dengan sifat hujan di bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Namun demikian, Faisal menegaskan karakteristik musim kemarau di Jawa Barat tidak berlangsung seragam karena setiap daerah memiliki zona musim yang berbeda.
Baca juga:
Menurut Faisal, sejumlah wilayah seperti kawasan pesisir utara Jawa Barat telah lebih dulu memasuki musim kemarau.
Sementara itu, wilayah lain seperti Bogor masih memiliki karakteristik cuaca yang berbeda sehingga peluang hujan tetap ada.
“Karena itu pemantauan perlu dilakukan secara spesifik berdasarkan zona musim,” jelasnya.
Pendekatan berbasis zona musim dinilai penting agar pemerintah daerah dapat mengambil langkah mitigasi yang lebih tepat sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Baca juga:
Musim Kemarau, Gubernur Jateng Minta Tambahan Kuota Penangkapan Kera
Durasi Kemarau Diperkirakan Capai Tujuh Bulan
BMKG memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung karakteristik wilayah.
Untuk mendukung upaya mitigasi, BMKG akan terus memperbarui informasi iklim, kondisi hari tanpa hujan, hingga potensi kekeringan yang terjadi di berbagai daerah.
Informasi tersebut akan disampaikan secara berkala kepada pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan dan langkah antisipasi.
BMKG menilai kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering.
Langkah mitigasi diperlukan untuk meminimalkan risiko kekeringan, menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat, mempertahankan ketahanan pangan, serta mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. (Knu)