MERAHPUTIH.COM — PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu membela mati-matian kampanye militer negerinya di Iran, Gaza, dan tempat lain di Timur Tengah dalam pidatonya di Majelis Umum PBB. Padahal, sebelumnya, puluhan delegasi walkout sebagai bentuk protes saat ia naik ke panggung. Netanyahu bersumpah untuk terus bertempur.
“Kami akan menang. Kami tidak punya pilihan lain,” tegasnya.
Saat menanggapi aksi walkout tersebut, ia malah mengejek para delegasi dengan sebutan pengecut moral. "Jika ada penakut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan keluar sekarang,” ujarnya.
Pemimpin Israel tersebut juga menolak tuduhan bahwa Israel sedang melakukan genosida di Gaza.
Baca juga:
Indonesia Ikut Aksi Walk Out Saat Benjamin Netanyahu Pidato di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB
Beberapa jam sebelumnya, dalam sebuah pesan rekaman, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyampaikan kepada PBB bahwa kebijakan-kebijakan Israel, khususnya soal perluasan ilegal permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki, mengancam kehidupan dan keberadaan rakyat Palestina di tanah air mereka.
Ia juga mengatakan hal itu membahayakan solusi dua negara. Hal itu merupakan formula perdamaian yang didukung secara internasional antara Israel dan Palestina.
Abbas mengatakan rakyat Palestina menjadi sasaran pembunuhan, penghancuran, kelaparan, dan upaya pengusiran, serta perang genosida di Gaza oleh militer Israel. Pemimpin Palestina tersebut menyampaikan pidatonya pada pertemuan tahunan itu melalui tautan video karena ia ditolak mendapatkan visa masuk ke AS.
Baca juga:
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Serang Erdogan, tapi Puji Trump
Netanyahu, yang menjadi sasaran surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang, melancarkan serangan tajam terhadap negara-negara dan para pemimpin yang mengkritiknya.
"Mereka menuduh Israel, Israel yang kecil ini, melakukan kolonialisme. Kolonialisme macam apa? Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka ialah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, merekalah yang menciptakan istilah itu," katanya.
Ia melanjutkan dengan melabeli Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai ‘tiro’ (penguasa lalim), serta menuduhnya mendukung kelompok bersenjata Palestina, Hamas. Erdogan menyampaikan kepada PBB pada hari Selasa bahwa ketidakadilan yang dihadapi mereka yang berada di Gaza dan Tepi Barat sangat melukai nurani kemanusiaan.
Komentar Netanyahu memicu tanggapan keras dari Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran. Seperti dilansir Anadolu, Durang menyebut penggunaan podium Majelis Umum PBB oleh PM Israel untuk melontarkan tuduhan tak berdasar terhadap Turki dan Erdogan tidak selaras dengan cita-cita perdamaian, hukum, dan dialog PBB.
Wali Kota New York City yang berhaluan kiri, Zohran Mamdani juga tak luput dari kritik sang pemimpin Israel. Mamdani sebelumnya berjanji akan menangkap Netanyahu, tapi kemudian menyatakan tidak memiliki wewenang untuk melakukannya. “Sejak Anda terpilih sebagai wali kota kota ini, banyak orang Yahudi tidak lagi merasa aman di New York," ujar PM Israel tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, kantor Mamdani menyebut Netanyahu menggunakan pidatonya untuk mengulang kebohongan tak berdasar yang bertujuan menyucikan aksi genosidanya terhadap rakyat Palestina.
Namun, Netanyahu malah berterima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas kepemimpinannya yang berani, merujuk pada serangan udara yang dilancarkan bersama oleh AS dan Israel terhadap Teheran pada Februari. "Israel dan Amerika bertindak bersama bukan hanya untuk melindungi diri kita sendiri, tetapi untuk menyelamatkan peradaban," katanya.(dwi)
Baca juga:
Disidang dalam Kasus Korupsi, Benjamin Netanyahu Minta Pengampunan dari Presiden Israel