Kesehatan

Begadang Jangan Begadang!

P Suryo RP Suryo R - Sabtu, 12 Maret 2022
Begadang Jangan Begadang!

Usahakan jangan begadang bila tidak ada artinya. (Foto: Pixabay/mohamed_hassan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KESERINGAN begadangpasti membuat seseorang memiliki kualitas tidur yang buruk. Berbesa jika dilakukan hanya sesekali saja tidak timbul masalah. Namun jika terlalu sering, ada banyak sekali dampak kesehatan yang bisa saja terjadi.

Kurang tidur bukanlah hal yang bisa disepelekan begitu saja. Dilansir dari Healthline, normalnya seseorang memiliki waktu tidur selama 7–9 jam per hari. Jika kurang, berikut ini bahaya yang akan muncul.

Baca Juga:

Tidak Bisa Tidur Karena Otak Terasa Penuh? Ikuti 3 Tips Ini

Sulit konsentrasi

tidur
Kurangnya waktu tidur dapat menurunkan kewaspadaan. (Foto: Pixabay/Mustafa_Fahd)

Bahaya bagi tubuh yang pertama adalah akan sulit berkonsentrasi. Memiliki waktu tidur yang cukup dapat bermanfaat bagi proses berpikir dan belajar. Kurangnya waktu tidur dapat menurunkan kewaspadaan, konsentrasi, nalar dan kemampuan memecahkan masalah. Bukan itu saja, kurang tidur juga dapat menurunkan daya ingat seseorang.

Muncul penyakit serius

tidur
Diabetes adalah penyakit yang menjadi momok bagi kesehatan. (Foto: Pixabay/Tumisu)

Begadang menjadi penyebab sejumlah masalah berbahaya bagi tubuh. Beberapa penyakit yang membahayakan tubuh akibat begadang, antara lain:

- Stroke


- Diabetes


- Penyakit jantung


- Serangan jantung


- Gagal jantung


- Peningkatan detak jantung


- Tekanan darah tinggi

Menurunkan gairah seksual

tidur
Terlalu sering begadang dapat menurunkan libido. (Foto: Pixabay/JayMantri)

Bahaya begadang bagi tubuh selanjutnya adalah menurunkan gairah seksual. Terlalu sering begadang dapat menurunkan libido dan menurunkan keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Alasannya adalah terlalu banyak energi yang terkuras dan rasa kantuk yang berlebihan. Kondisi ini bukan hanya terjadi pada pria saja, wanita pun memiliki risiko yang sama.

Memicu obesitas

tidur
Terlalu sering begadang memiliki efek yang sama dengan makan terlalu banyak. (Foto: Pexels/SHVETS production)

Terlalu sering begadang memiliki efek yang sama dengan makan terlalu banyak dan jarang berolahraga. Seseorang yang sering melakukannya dapat mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Tidur sendiri baik untuk meningkatkan fungsi dua hormon yang bertanggung jawab dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Jika kurang tidur, maka hormon tersebut akan mengalami penurunan, sehingga tubuh terus-menerus merasa lapar.

Produksi hormon menurun

tidur
Penurunan hormon testosteron dapat memicu kurangnya massa otot. (Foto: Unsplash/Victor Freitas)

Penurunan produksi hormon menjadi bahaya begadang bagi tubuh yang terakhir. Hormon yang dapat mengalami penurunan adalah hormon pertumbuhan hingga testosteron. Saat pria terlalu sering begadang, penurunan hormon testosteron dapat memicu munculnya lemak, kurangnya massa otot, kerapuhan tulang, hingga mudah lelah.

Baca Juga:

Scrolling TikTok Sebelum Tidur Dapat Mempengaruhi Mimpi

Dikutip dari NHS UK, Berikut cara mengurangi kebiasaan begadang yang bisa kamu terapkan.

Komitmen hidup sehat

tidur
Biasakan diri untuk bangun dan tidur pada jam yang sama setiap harinya. (Foto: Unsplash/Emma Simpson)

Biasakan diri untuk bangun dan tidur pada jam yang sama setiap harinya. Pahami jika tubuh kamu perlu jam istirahat yang cukup karena pada jam tertentu, tubuh perlu melakukan regenerasi dan detoksifikasi, dimana kedua hal tersebut bisa terjadi pada saat kamu tidur.

Tidur nyaman

tidur
Buatlah suasana tidur yang nyaman. (Foto: Pexels/Pixabay)

Mengurangi kebiasaan begadang perlu juga dengan membuat suasana tidur yang nyaman. Misalnya, dengan meredupkan atau bahkan mematikan lampu. Kamu juga bisa membersihkan kamar atau rombak suasana kamar untuk menciptakan suasana tidur yang lebih nyaman.

Pola hidup sehat

tidur
Hindari mengonsumsi makanan berat sebelum tidur. (Foto: Pexels/Luna Lovegood)

Berolahraga secara teratur, setidaknya 20 – 30 menit per hari. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, perbanyak konsumsi buah dan sayuran, makan secara teratur, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol. Selain itu, hindari mengonsumsi makanan berat sebelum tidur, namun jangan tidur dengan perut kosong.

Relaksasi tubuh dan pikiran

tidur
Hentikan aktivitas fisik dan juga otak yang sangat berlebihan. (Foto: Pixabay/sweetlouise)

Ketika ingin tidur, kamu perlu merelaksasikan pikiran, meskipun masih banyak tuntutan dari pekerjaan yang belum terselesaikan. Kamu perlu menghentikan sejenak aktivitas fisik dan juga otak yang sangat berlebihan. Hal ini dikarenakan tubuh perlu santai serta rileks agar saraf – saraf pada tubuh tidak menjadi tegang.

Jangan merokok

tidur
Rokok bisa merangsang hormon di saraf otak untuk tidak bisa beristirahat maksimal. (Foto: Unsplash/M Azharul Islam)

Rokok bisa merangsang hormon di saraf otak untuk tidak bisa beristirahat maksimal. Maka, kamu perlu menghilangkan kebiasaan merokok sebelum tidur.

Ayo mulai ubah pola tidurmu, ini membutuhkan komitmen yang kuat untuk mengatasinya. (DGS)

Baca Juga:

Terasa Pegal Ketika Bangun Tidur? Atasi dengan Ini

#Kesehatan #Tidur
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan