MerahPutih.com - BMKG mencatat hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB telah terjadi 4.256 gempa susulan setelah gempa utama pada Sabtu (15/8). Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar tercatat M 6,2 dan terkecil M 1,1. Sebanyak 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sementara 118 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Kerugian akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan mencapai Rp 2,2 triliun. Perkiraan tersebut mencakup kerusakan rumah, fasilitas umum dan infrastruktur, hingga terganggunya aktivitas ekonomi di delapan kabupaten terdampak.
Angka itu berasal dari kajian Damage and Loss Assessment (DALA) Direktorat Riset, Kajian, dan Pengembangan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berdasarkan data hingga 18 Agustus 2026.
Sektor perumahan menjadi penyumbang kerugian terbesar, yakni sekitar Rp 1,42 triliun. Kajian tersebut mencatat 19.317 rumah mengalami kerusakan.
Baca juga:
Kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur diperkirakan mencapai Rp 275,1 miliar. Sementara kerugian akibat terhentinya aktivitas ekonomi mencapai Rp 334,1 miliar dan biaya tambahan yang muncul akibat bencana sekitar Rp 191,7 miliar.
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Kabupaten Manggarai Timur. Daerah ini disebut menyumbang 54 persen dari total kerugian yang dialami mustahik di delapan kabupaten terdampak.
Kajian tersebut juga menemukan adanya kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan kembali rumah yang belum seluruhnya tertutup melalui skema bantuan pemerintah. Selisih kebutuhan tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp 366 miliar hingga Rp 593 miliar.
Kesenjangan pembiayaan itu menjadi salah satu persoalan yang perlu diselesaikan dalam tahap pemulihan, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan masuk kelompok rentan. Di luar persoalan kerusakan fisik, pemulihan ekonomi juga menjadi tantangan.
Hilangnya aktivitas ekonomi diperkirakan menimbulkan kerugian ratusan miliar rupiah, sehingga pemulihan tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik. Sejak masa tanggap darurat, sejumlah lembaga telah turun membantu penanganan warga terdampak. BAZNAS antara lain mengerahkan personel, layanan kesehatan, dapur umum, dapur air, dan posko pengungsian sementara.