Bank Indonesia Tetapkan Kenaikan Suku Bunga Acuan Demi Stabilitas Ekonomi Domestik

Eddy FloEddy Flo - Kamis, 17 Mei 2018
Bank Indonesia Tetapkan Kenaikan Suku Bunga Acuan Demi Stabilitas Ekonomi Domestik

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo saat konferensi pers pengumuman BI Rate di Gedung BI, Jakarta (Foto Antara/Widodo S Jusuf)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Bank Indonesia memutuskan kenaikan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" sebagai langkah bauran untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan kenaikan suku bunga acuan itu sebagai kebijakan untuk menghadapi tekanan ekonomi global.

Agus dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (17/5) mengungkapkan instrumen suku bunga acuan saat ini harus ditujukan untuk stabilisasi guna mengantisipasi peningkatan ketidakpastian keuangan dunia dan penurunan likuiditas global.

"Kenaikan 'policy rate' ditempuh sebagai bagian untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah berlanjutnya peningkatan ketidakpastian keuangan dunia dan penurunan likuiditas global," ujarnya.

Gubernur BI Agus Marto
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Kenaikan suku bunga acuan diharapkan dapat membantu menjaga iklim investasi agar modal asing bisa kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Modal asing yang masuk berbentuk valas akan membantu untuk memenuhi permintaan valas sehingga tidak ada kelangkaan yang dapat mengurangi nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dari Januari hingga akhir April 2018 sebesar 2,06 persen (year to date/ytd).

"Ke depan BI akan tetep melakukan stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya dan mendorong pengembangan pasar keuangan," kata Agus.

Agus menambahkan tekanan dari eksetrnal juga masih membayangi dari rencana kebijakan pengetatan moneter The Federal Reserve, Bank Sentral AS. Pandangan BI, kata Agus, The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya dua kali lagi hingga akhir tahun sehingga terakumulasi menjadi tiga kali dalam tahun ini.

Sementara itu, secara terpisah Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menilai kenaikan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate (7DRRR) perlu dilakukan Bank Indonesia untuk mengurangi risiko semakin derasnya arus modal keluar (capital outflow).

Anton menuturkan dalam kondisi penuh ketidakpastian ekonomi global saat ini, para investor tengah melakukan pergeseran dana yang sebelumnya ditanamkan di negara-negara berkembang menuju ke Amerika Serikat yang dianggap lebih aman.

Uang tunai
Uang tunai siap edar (foto Setkab)

"Dalam situasi seperti ini, mereka akan memilih negara mana di 'emerging market' yang lebih berisiko. Indonesia kalau mau dilihat dari beberapa ukuran, kita masih relatif lebih bagus. Yang penting, menurut kami, jangan sampai muncul risiko yang akan mengganggu 'view' tentang Indonesia secara keseluruhan. Walau fundamental kita masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain, tapi di sana sini ada titik risiko. Kurangilah risiko itu," ujar Anton saat jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Saat ini, suku bunga acuan BI masih berada di level 4,25 persen. Anton menilai, level tersebut sedikit agak rendah. Bank sentral perlu menaikkan suku bunga 25-50 basis poin.

"Kelihatannya kita itu agak sedikit terlalu kerendahan dibandingkan ekspektasi inflasi, bukan inflasinya ya. Itu 'gap'-nya akan jadi sangat tipis. Kenaikan itu diperlukan supaya jangan muncul risiko-risiko tambahan. Makanya, kita pikir naikkan suku bunga," ujar Anton sebagaimana dilansir Antara.

Pada Kamis ini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI akan mengumumkan kebijakan suku bunga acuan apakah tetap dipertahankan di level 4,25 persen atau dinaikkan mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah pihak banyak memprediksi bank sentral akan menaikkan suku bunga acuannya.

Sebelumnya, RDG BI pada pertengahan April 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRRR tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga "deposit facility" tetap sebesar 3,5 persen dan "lending facility" tetap sebesar 5 persen.

Bank Indonesia pun tetap mewasapadai sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu perekonomian domestik, seperti peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia, kenaikan harga minyak, dan kemungkinan berlanjutnya perang dagang AS-Tiongkok.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Rupiah Terpuruk, Bank Indonesia Siapkan Paket Kebijakan Penyesuaian Suku Bunga

#Agus Martowardojo #Gubernur Bank Indonesia #Bank Indonesia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rupiah Melemah ke Rp 18.000, Arus Keluar Dana Masih Akan Berlanjut
MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) ke Standalone Market (pasar mandiri).
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 16 Oktober 2026
Rupiah Melemah ke Rp 18.000, Arus Keluar Dana Masih Akan Berlanjut
Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Indonesia
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
BI menargetkan jumlah pengguna QRIS mencapai 69,32 juta pada akhir tahun ini atau tumbuh sebesar 20,26 persen secara tahunan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
Indonesia
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Tugas penagihan kewajiban itu akan dialihkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Indonesia
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Pemerintah resmi melunasi utang BLBI Rp218,3 T ke BI setelah 30 tahun. Hak tagih dan penyitaan aset obligor nakal diambil alih Kemenkeu!
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Indonesia
Utang Luar Negeri Kembali Naik, Per Juli 2026 Capai USD 454,8 Miliar
Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Utang Luar Negeri Kembali Naik, Per Juli 2026 Capai USD 454,8 Miliar
Indonesia
Profil Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman, Eks Wadir Eksekutif IMF Jadi Orang Nomor Dua Bank Sentral
Dengan rekam jejak internasional di IMF dan pengalaman panjang di BI, Aida S Budiman diharapkan mampu menjaga stabilitas moneter Indonesia
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Profil Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman, Eks Wadir Eksekutif IMF Jadi Orang Nomor Dua Bank Sentral
Indonesia
Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Perempuan Pertama Pimpin Bank Indonesia
Destry Damayanti resmi ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin BI sejak 1953.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 01 September 2026
Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, Perempuan Pertama Pimpin Bank Indonesia
Indonesia
Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, DPR RI Tetapkan 2 Deputi untuk Periode Baru
DPR RI menetapkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2030. Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro juga ditetapkan sebagai Deputi BI.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 01 September 2026
Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI, DPR RI Tetapkan 2 Deputi untuk Periode Baru
Indonesia
Destry Damayanti Telah Disetujui DPR Jadi Gubernur BI, Ini Tim Anyar Pimpinan BI
Komisi XI DPR RI telah menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) selama dua hari berturut-turut.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 28 Agustus 2026
Destry Damayanti Telah Disetujui DPR Jadi Gubernur BI, Ini Tim Anyar Pimpinan BI
Bagikan