Banggar DPR Soroti 4 Isu Krusial Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Setpres)
Merahputih.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, memberikan empat catatan isu krusial yang perlu menjadi fokus utama dalam satu tahun masa pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Said menilai keempat isu krusial tersebut sangat penting untuk memastikan arah pembangunan Indonesia mencapai visi Indonesia Emas 2045. Isu-isu tersebut meliputi kedaulatan pangan, kedaulatan energi, peningkatan kesehatan, serta pendidikan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Keempat hal tersebut menjadi fondasi sekaligus estafet penting, apakah Indonesia bisa mencapai visi Indonesia emas 2045 atau tidak, yakni menjadi negara dengan demografi berpendidikan tinggi, harapan hidup bisa lebih dari 75 tahun dan penghasilan per kapita bisa mencapai 23 ribu USD," ungkap Said di Jakarta, Selasa (21/10).
Baca juga:
Prabowo Perintahkan Cari Siswa Cerdas Sampai Desa-Desa, Duit Rp 13 Triliun Sebagian Buat Beasiswa
Tantangan dan Harapan Empat Sektor Krusial
Terkait kedaulatan pangan, politikus PDI Perjuangan ini mengapresiasi kemajuan yang telah ditunjukkan pemerintah, seperti pembukaan lahan pertanian baru di Papua, pembentukan batalyon pangan, dan perhatian Presiden terhadap penyediaan pupuk murah. Namun, Said menekankan perlunya penguatan pada aspek redistribusi lahan, terutama di Jawa.
“Pemerintah perlu memberi perhatian pada redistribusi lahan bagi petani di Jawa. Kepemilikan lahan rata-rata petani di Jawa kurang dari dua hektar, padahal untuk hidup layak minimal harus memiliki tiga hektar,” tuturnya.
Di sektor energi, Said menilai masyarakat belum merasakan agenda besar yang signifikan. Ia menyoroti persoalan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sempat kosong di sejumlah SPBU non-Pertamina akibat kebijakan distribusi. Menurutnya, keberhasilan pemerintah di masa depan harus diukur dari empat program: pembangunan kilang minyak dalam negeri, peningkatan proporsi Energi Baru Terbarukan (EBT), pengembangan energi listrik nasional, serta pengelolaan subsidi energi yang tepat sasaran.
Baca juga:
Setahun Pemerintahan Prabowo, Komisi I DPR: Diplomasi Indonesia Mengguncang Dunia
Pada sektor kesehatan, Said menekankan bahwa kebijakan saat ini masih terlalu berfokus pada aspek kuratif (pengobatan) yang berbiaya besar, padahal penguatan program preventif (pencegahan) jauh lebih krusial.
“Kalau pemerintah fokus di kuratif, biayanya sangat mahal dan fiskal kita terbatas. Kemenkes dan BPOM perlu bekerja sama dengan masyarakat membangun gaya hidup sehat sebagai bagian dari citra generasi emas Indonesia,” jelasnya.
Terakhir, dalam bidang pendidikan, Said mengapresiasi inisiatif pembangunan sekolah Garuda, tetapi menyarankan agar prioritas pembangunan dialihkan ke daerah-daerah yang minim fasilitas. Ia juga mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi.
“Saya kira pemerintah perlu melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi yang memerintahkan sekolah gratis untuk SD dan SMP, baik negeri maupun swasta. Bahkan bila perlu, gratis hingga tingkat SMA atau SMK,” pungkasnya. (Pon)
Bagikan
Ponco Sulaksono
Berita Terkait
Penertiban Kawasan Hutan Jadi Prioritas, Prabowo Gelar Ratas di Sela Lawatan ke London
Prabowo Tiba di London, Dijadwalkan Bertemu PM Keir Starmer dan Raja Charles III
100 Ribu Orang Terdampak Banjir Jawa, DPR Desak Pemerintah Serius Tangani Perubahan Iklim
Presiden Prabowo Subianto Tiba di Inggris Perkuat Kemitraan Strategis dan Diplomasi Ekonomi Global
Presiden Prabowo Akan Bertemu PM Inggris, Juga Raja Charles III Bahas Pelestarian Alam dan Lingkungan Sebelum ke Swiss
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Pecat Sejumlah Menteri ketika Retret di Hambalang
[HOAKS atau FAKTA]: Seperti Venezuela, Donald Trump Ancam Tangkap Prabowo jika Lakukan Perusakan Terhadap Alam
Ini nih Isi RUU Perampasan Aset yang Terdiri dari 8 Bab 62 Pasal
Dua Konsep RUU Perampasan Aset, Semua Penyitaaan Berbasis Putusan Pengadilan
Rehabilitasi Sawah Rusak Rp 5 Triliun, DPR Minta Pengawasan Ketat