Kesehatan

Bahaya Kesehatan di Balik Gelas Kertas

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 15 Juli 2024
Bahaya Kesehatan di Balik Gelas Kertas

Ada bahaya kesehatan di balik gelas kertas.(foto: pexels-sarah-chai)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - GELAS kertas acap disebut sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan ketimbang gelas plastik sekali pakai. Namun, kenyataannya enggak demikian. Studi membukti penggunaan gelas kertas masih memiliki risiko bahaya.

Gelas kertas hanya bisa digunakan untuk sekali pemakaian. Jika sudah digunakan, gelas kertas harus dibuang. Selain itu, cup kertas juga tidak bisa tahan lama karena mudah luruh jika terkena air dalam waktu lama.

Untuk membuatnya lebih tahan lama, gelas kertas diproduksi dengan bahan tambahan berupa plastik tipis yang melindungi bagian dalam cup tersebut. Tujuan penggunaan plastik tersebut ialah menjaga ketahanan cup kertas dari lemak dan air.

Seperti dilansir Sciencedaily, plastik yang melapisi bagian dalam cup kertas dibuat dari film plastik polilaktida, PLA, sejenis bioplastik. Bioplastik ini diproduksi dari sumber daya terbarukan, misalnya poli lactid acid jagung, singkong, atau tebu.

PLA sering dianggap dapat terbiodegradasi, artinya plastik ini dapat terurai lebih cepat jika dibandingkan dengan plastik berbahan dasar minyak dalam kondisi yang tepat. Namun, studi para peneliti menunjukkan PLA masih bisa menjadi racun.

Baca juga:

Studi Tunjukkan Gelas Kertas juga Berbahaya bagi Lingkungan

Profesor ilmu lingkungan di Departemen Biologi dan Ilmu Lingkungan di Universitas Gothenburg Bethanie Carney Almroth mengatakan ada potensi kandungan racun dalam gelas kertas. Ia mengatakan ada kemungkinan kandungan PLA mengandung mikroplastik dan kemudian masuk ke tubuh manusia.

"Ada risiko bahwa plastik tersebut tetap berada di alam dan mikroplastik yang dihasilkan dapat tertelan oleh hewan dan manusia, sama seperti plastik lainnya. Bioplastik setidaknya mengandung bahan kimia yang sama banyaknya dengan plastik konvensional," kata Almroth, dikutip Minggu (14/7).

Sebuah penelitian yang dilakukan Almroth menunjukan hasil genangan air dari wadah gelas plastik menimbulkan kematian pada nyamuk. Uji itu menunjukkan kemungkinan toksisitas.

Penelitian dimulai dengan tutup plastik dan cangkir polistiren. Gelas-gelas tersebut ditempatkan di air beriklim sedang atau sedimen dan dibiarkan larut hingga empat minggu. Larva tersebut kemudian dipelihara di akuarium yang berisi air atau sedimen yang tercemar kertas dan gelas plastik. Terlepas dari sumber kontaminasi, pertumbuhan larva berkurang di sedimen, dan paparan terhadap air yang tercemar juga menghambat perkembangan mereka.

Para ahli ekotoksikologi tidak melakukan analisis kimia untuk melihat zat mana yang telah larut dari cangkir kertas ke dalam air dan sedimen. Meskipun begitu, ia menduga campuran bahan kimia menyebabkan kerusakan tersebut. Namun, sulit untuk mengatakan lebih banyak, mengingat tidak diketahui bahan apa saja yang ada.

“Ini semua akan lebih mudah jika perusahaan diminta untuk memberi tahu kami apa yang mereka gunakan dalam produk mereka,” katanya.(tka)

Baca juga:

3 Bahan Tambahan untuk Segelas Air Putih Biar Makin Berkhasiat

#Kesehatan
Bagikan
Ditulis Oleh

Tika Ayu

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Indonesia
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
emerintah memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan penghapusan tunggakan iuran sehingga mereka bisa kembali aktif menikmati layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Rabu, 19 November 2025
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Bagikan