Ayah, Rokok Dapat Hambat Tumbuh Kembang Balita Nih
Rokok sangat berbahaya. (Foto: Unsplash/Julia Engel)
MerahPutih.com - Para ayah tolong berhenti merokok ya. Anak kamu yang masih berusia balita dapat terkena dampaknya. Meski jadi perokok pasif, balita yang menghirup asap rokok rentan mengalami gangguan tumbuh kembang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila dalam pemaparannya di "Asap Rokok Ganggu Tumbuh Kembang Anak" yang disiarkan Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (21/6), seperti dikutip dari Antara.
Ngabila menjelaskan ada 10 aspek perkembangan neurologis balita yang akan terganggu apabila terpapar asap rokok.
"Yang pertama adalah motorik kasar, yang kedua adalah motorik halus, yang ketiga adalah kemampuan kognitif atau berpikir, IQ. Yang keempat adalah bahasa, ya. Lalu kelima konsentrasi, keenam ADHD atau autis, attention deficit hyperactivity disorder," ujarnya.
Baca juga:
Selain itu, asap atau residu rokok juga dapat memengaruhi kualitas pendengaran, gangguan pemusatan konsentrasi, dan gangguan beradaptasi terhadap lingkungan. Bahkan, balita nan terpapar asap rokok dapat memiliki perawakan yang lebih pendek dan badannya lebih kurus.
Lebih parahnya, asap rokok dapat berefek langsung terhadap anak dengan bakat asma. Reaksi paparan asap rokok akan langsung terasa dalam hitungan hari, bahkan jam.
"Ada anak kita jadi langsung gampang batuk pilek, ISPA, padahal udah divaksin influenza, misalnya udah divaksin macem-macem. PCV, pneumonia, tapi tetap kena batuk pileknya sering, imunitasnya yang lebih rendah juga, nah itu efek daripada radikal bebas," katanya.
Adapun secara makro, yaitu pada perkembangan kognitif atau otak, efeknya akan langsung terlihat dalam periode waktu enam bulan.
Baca juga:
Paparan asap rokok juga dapat meningkatkan risiko stunting pada anak. Maka dari itu, perlu ada tindakan pencegahan stunting yang dapat dilakukan sejak sebelum anak lahir. Pencegahan tersebut dapat dilakukan sejak 1000 hari awal kehidupan mulai dari kandungan.
Efek buruk rokok pada balita tersebut juga bisa berasal dari rokok herbal dan elektrik. Maka dari itu, Ngabila menegaskan agar para orang tua jangan sampai 'membawa' paparan asap rokok ke dalam rumah. Kalau perlu, hilangkan asbak yang ada di rumah agar anak tidak meniru kebiasaan tersebut.
"Kalau nyampe rumah, langsung mandi bersih, sabunan, keramasan, karena sisa di baju kita itu juga terhirup, dan itu anak-anak jadi third-hand smoker," tutupnya. (ikh)
Bagikan
Berita Terkait
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya