MERAHPUTIH.COM - PENASIHAT Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta August Hamonangan mendorong Pemerintah DKI untuk lebih memerhatikan lagi para pengusaha maggot yang ada di Ibu Kota. Menurutnya, para pengusaha maggot memiliki potensi yang besar untuk dijadikan mitra oleh Pemprov DKI dalam mengatasi permasalahan sampah di Jakarta. Apalagi tumpukan sampah semakin menggunung dan Jakarta membutuhkan solusi yang cepat untuk mengolahnya.
Hal ini diutarakan August setelah insiden longsor di Zona IV Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPSP) Bantargebang, Minggu (8/3).
"Kami punya banyak pengusaha pendaur ulang sampah yang menggunakan maggot di Jakarta ini. Jasa-jasanya dalam mengurangi jumlah sampah masyarakat pun tidak bisa dikatakan kecil. Di masa depan, Pemprov DKI harus menjadikan para pengusaha itu mitra dalam menangani sampah di Ibu Kota," katanya, Senin (9/3).
“Para pengusaha itu harus didukung. Pemprov DKI bahkan perlu memberikan bantuan dalam bentuk pembinaan dan pelatihan bagi warga-warganya yang ingin memulai usaha di bidang itu. Semakin banyak pengusaha yang menjalankan usaha daur ulang sampah dengan menggunakan maggot ini sehingga lebih baik lagi,” sambungnya.
Baca juga:
Menteri LH Sebut Longsor Bantargebang Jadi Bukti Kegagalan Sistem Pengelolaan Sampah di Jakarta
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (LH), Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap harinya per 2025. Itu sudah memenuhi tempat-tempat pembuangan yang ada seperti Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
"Kita harus segera mengurangi sampah-sampah yang dihasilkan warga Jakarta dari hari ke hari. Apalagi, tempat-tempat sampah kita juga sudah hampir penuh. Di Bantar Gebang, kondisinya sudah genting. Sekarang kita sering melihat berita ada tumpukan sampah yang longsor dari waktu ke waktu," tegasnya.
August menilai solusi-solusi alternatif seperti maggot yang dapat menghasilkan produk kompos dan produk-produk kreatifnya masih belum dimanfaatkan secara optimal. Data SIPSN Kementerian LH memperlihatkan Jakarta punya 2.867 fasilitas bank sampah. Sementara itu, hanya ada 421 fasilitas komposting dan 8 fasilitas produk kreatif lainnya.
"Cara-cara konvensional dalam mengelola sampah juga memiliki batasan-batasannya. Kita tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan itu, sampahnya hanya akan bertambah lebih banyak lagi. Pemprov DKI harus mencari solusi-solusi alternatif, dimulai dari menggandeng dan membantu pengusaha-pengusaha maggot," tegasnya.(Asp)
Baca juga:
Menteri LH Sebut Longsor Bantargebang Jadi Bukti Kegagalan Sistem Pengelolaan Sampah di Jakarta