Merahputih.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertegas posisi tawar Washington dengan mendesak Iran segera menyepakati perjanjian nuklir baru yang lebih ketat pada Rabu (11/2). Langkah diplomatik ini diambil di tengah pergerakan masif aset militer AS ke Timur Tengah pasca-Operasi Midnight Hammer yang sempat mengguncang fasilitas nuklir Teheran tahun lalu.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa Trump optimistis dapat mengamankan kesepakatan yang jauh lebih menguntungkan bagi kepentingan global saat ini. Kondisi geopolitik yang berubah drastis setelah serangan Juni 2025 diyakini menjadi kartu as bagi Gedung Putih.
Baca juga:
Prabowo Dipastikan Terbang ke AS Hadiri Rapat Perdana Dewan Perdamaian Ala Trump
“Presiden Trump berpikiran terbuka, dan seperti yang ia katakan, ia yakin sekarang dapat memperoleh kesepakatan yang jauh lebih baik dari pihak Iran setelah Operasi Midnight Hammer pada 22 Juni,” ujar Bessent dalam wawancara bersama Fox News.
Mobilisasi Armada Besar ke Timur Tengah
Ketegangan di kawasan meningkat seiring laporan citra satelit yang menunjukkan mobilisasi jet tempur dan sistem pertahanan udara AS ke pangkalan-pangkalan strategis di sekitar Iran.
Trump bahkan secara terang-terangan menyebut sebuah "armada besar" tengah bergerak menuju posisi siaga untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
Menteri Perang Pete Hegseth dilaporkan terus berkoordinasi intensif dengan Presiden untuk menentukan langkah taktis berikutnya. Fokus utama Washington tetap pada pelucutan total senjata nuklir Iran demi stabilitas kawasan.
Ancaman Serangan Lanjutan yang Lebih Dahsyat
Baca juga:
Donald Trump Peringatkan Iran Jangan Coba-Coba Bangun Nuklir Baru
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini, Trump menekankan pentingnya Teheran untuk bertindak secara masuk akal dan bertanggung jawab.
Meski membuka pintu negosiasi, peringatan keras tetap dilontarkan mengingat sejarah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada pertengahan 2025 lalu.
Trump memperingatkan bahwa jika diplomasi menemui jalan buntu, tindakan militer berikutnya akan membawa dampak yang jauh lebih merusak.
Kini, keputusan sepenuhnya berada di tangan pemerintah Iran untuk memilih jalur perdamaian yang adil atau menghadapi konsekuensi kekuatan militer penuh dari Amerika Serikat.