Apakah 'Weighted Blankets' Benar-Benar Bisa Membuat Tidurmu Lebih Nyenyak?
Yuk buat dirimu cepat tidur dengan selimut berat. (Foto pixabay/cdd20)
WEIGHTED blankets menjadi salah satu kebutuhan tidur yang sedang ramai dibicarakan. Dikutip dari Healthline, weighted blankets adalah selimut terapeutik yang beratnya mulai dari 2 sampai 13 kilogram. Tekanan yang diperoleh dari beban selimut ini meniru teknik terapi yang disebut sebagai deep pressure stimulation atau pressure therapy yang bisa membuat tidur lebih nyenyak.
Selimut berat ini diklaim mampu meredakan stres dan membuat tidur lebih berkualitas. Tidak hanya itu, weighted blankets juga dianggap bermanfaat bagi pengidap gangguan kecemasan, autisme, insomnia, dan kondisi lainnya. Lantas, apakah klaim ini terbukti benar?
Baca juga:
Dikutip dari Healthline, teknik terapi deep pressure stimulation menggunakan tekanan sebagai stimulan untuk merileksasi sistem saraf. Ini serupa dengan pengalaman dipegang atau dipeluk orang lain. Menurut sebuah jurnal (https://doi.org/10.1093/sleep/zsaa056.1197) pada 2020 yang dipublikasikan pada Oxford Academic, menggunakan weighted blankets mampu meredakan persepsi nyeri, mengurangi gejala kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, dan meredakan gejala depresi.
Para peneliti juga telah mempelajari efektivitas selimut berat ini terhadap pengurangan gejala dari penyakit fisik dan emosional. Menurut studi yang dipublikasikan di PubMed Central, selimut berat ini mampu membantu mengurangi autonomic arousal yang bertanggungjawab atas beberapa gejala kecemasan, salah satunya peningkatan detak jantung.
Baca juga:
3 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Dikonsumsi Menjelang Tidur
Salah satu gejala dari autisme, terutama pada anak-anak, adalah kesulitan tidur. Kehadiran selimut berat mampu membantu mereka agar bisa mendapatkan tidur yang nyenyak.
Sejauh ini, belum ada laporan mengenai risiko yang serius dari penggunaan weighted blanket. Meski begitu, produsen selimut berat melarang penggunaan selimut untuk anak-anak di bawah dua tahun untuk menghindari risiko terperangkat di dalam selimut dan kekurangan oksigen.
Selimut berat juga tidak cocok digunakan oleh orang-orang yang mengidap obstructive sleep apnea yang menyebabkan gangguan pernapasan ketika tidur. Selimut berat juga tidak cocok untuk penderita asma karena berisiko menyebabkan kesulitan bernapas di malam hari. Selimut yang besar dan berat ini juga berisiko menjadi pemicu claustrophobia. (SHN)
Baca juga:
Jenis-jenis Teh Terbaik Beserta Khasiatnya untuk Masalah Kesehatan
Bagikan
annehs
Berita Terkait
Polda dan Polres se-Indonesia Zoom Meeting Bahas Antisipasi Hoaks Virus Nipah
[HOAKS atau FAKTA] : Sering Main Ponsel di Ruangan Gelap Bisa Bikin Kebutaan pada Mata
Sekda DKI Minta Dinas KPKP Uji Kelayakan Daging Ikan Sapu-sapu
Cegah Virus Nipah, DPR Dorong Kampanye Digital Protokol Kesehatan
Cak Imin Janjikan Program Penghapusan Tunggakan Iuran JKN Segera Terwujud
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah