MerahPutih.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melantik Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Menteri ATR/BPN di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pada Rabu (21/1) siang.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat mengatakan AHY masuk dalam kabinet pemerintahan Jokowi tidak lepas dari posisi Demokrat yang tergabung dalam partai pendukung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Sama-sama diketahui Jokowi kini posisinya berada di kubu 02 pasangan Prabowo-Gibran.
Baca Juga:
"Jadi kan gini ya, ketika Demokrat sudah mendukung Prabowo ya dia sudah masuk barisan pendukung Jokowi sekarang, karena kan kubu 02 Prabowo itu subnya Jokowi. Yang ini satu kesatuan," kata Cecep saat dihubungi MerahPutih.com, Rabu (21/2).
Maka dari itu, kata Cecep, ketika ada kursi menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin yang kosong, maka tokoh yang masuk menggantikan juga harus bagian dari koalisi Prabowo-Gibran.
"Kemudian kan ketika mereka sudah memberikan dukungan kemudian ada posisi yang kosong, ini juga kan tentu berusaha untuk mengamankan, secara otomatis lah, sehingga kemudian untuk AHY itu diberikan kursi menteri kursi yang kosong itu," tutur akademisi dari UI itu.
Baca Juga:
AHY Ungkap Isi Pertemuannya dengan Prabowo Sebelum Dilantik jadi Menteri
Kekosongan jabatan menteri itu, lanjut Cecep, karena Mahfud MD memutuskan untuk mengundurkan diri dari Menko Polhukam yang fokus pencalonan Cawapres nomor urut 03. Adapun posisi Menko Polhukam yang ditinggalkan Mahfud itu diisi Hadi Tjahjanto yang juga mantan Panglima TNI.
Dalam analisis Cecep, kursi Menteri ATR/BPN yang ditinggalkan Hadi itu menjadi jatah bagi anggota koalisi mereka. "Kebetulan Mahfud mundur kemudian Hadi yang kemudian bergeser menjadi Menko Polhukam, nah kursi yang kosong ini di isi AHY," tutur pakar politik dari UI itu. (Asp)
Baca Juga:

