MerahPutih.com - Amerika Serikat telah memulai operasi perang ekonomi atau "Economic D-Day" terhadap Iran, setelah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump belum bisa melumpuhkan kemampuan militer dan nuklir Iran secara signifikan.
Pemerintah AS mengklaim akan memanfaatkan setiap sumber daya yang tersedia untuk semakin mengisolasi Iran secara ekonomi dan memutus sumber-sumber dukungan bagi Pemerintah Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran sedang menghadapi “kondisi terburuk” dalam perang ekonomi. Namun, negaranya tetap menjalankan berbagai proyek pembangunan meski berada di bawah tekanan yang semakin besar.
Meskipun kita sedang menghadapi kondisi terburuk dalam perang ekonomi, semua orang melihat perang rudal, tetapi mungkin tidak semua orang melihat tekanan ekonomi. Meski demikian, pekerjaan terus berjalan, dan hal ini patut diapresiasi,
kata Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan Iranian Students’ News Agency (ISNA).
Baca juga:
AS Tekor, Fasilitas Intelijen di Timur Tengah Hancur Dibombardir Rudal Iran
Pezeshkian memuji pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian proyek tersebut. Menurutnya, pencapaian itu menjadi sangat berarti mengingat tekanan dan konflik yang sedang dihadapi Iran.
Mungkin dalam kondisi normal kita tidak akan mampu mencapai sebanyak ini,
ucapnya.
Presiden Iran tersebut mengatakan negaranya dapat mencapai hasil yang lebih baik melalui dukungan masyarakat, peningkatan akuntabilitas para pejabat, serta keterlibatan yang lebih besar dari dunia usaha dan investor.
Saya yakin kita dapat bekerja jauh lebih baik. Dengan solidaritas dan dukungan rakyat, akuntabilitas para pejabat, serta partisipasi sektor swasta dan investor, kita dapat dengan cepat mengatasi berbagai persoalan negara,
tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Amerika Serikat tidak akan mampu mencapai tujuannya melalui tekanan ekonomi terhadap Teheran, beberapa hari setelah Washington meluncurkan kampanye sanksi baru terhadap Iran. (*)