Ali Fauzi Ungkap WhatsApp Paling Efektif Sebarkan Paham Radikal
Ali Fauzi (ANTARA FOTO/Didik Budiyarto)
MerahPutih.Com - Tindakan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika yang memblokir sejumlah platform media sosial terkait konten terorisme dan radikal masih perlu ditingkatkan lagi. Jika sebelumnya sorotan lebih diarahkan kepada aplikasi pengirim pesan Telegram, kini konten terorisme dan radikalisme justru memenuhi WhatsApp.
Menurut mantan pentolan Jemaah Islamiyah Ali Fauzi, WhatsApp kini menjelma sebagai aplikasi pengirim pesan yang paling efektif menyebarkan paham radikal. Dalam perbincanngan dengan merahputih.com, Jumat (18/5), Ali Fauzi mengungkapkan akun berisi konten radikal memang menjadi salah satu cara para pelaku teroris merekrut anggota.
"Tidak salah jika pemerintah memblokir akun akun radikal. Tapi perlu dicatat, jika akun sudah ditutup, mereka jelas membuat akun lagi,"kata Ali Fauzi kepada merahputih.com di Surabaya.
Adik kandung Amrozi ini pun membeberkan bagaimana peran media sosial terhadap pergerakan pelaku-pelaku teroris.
Dikatakannya, penyebaran kelompok kelompok radikal antara 10 tahun dengan 15 tahun lalu jelas berbeda.
Saat masih tergabung dengan kelompok ekstrim ini, Ali Fauzi dan jaringannya masih menggunakan offline atau bertatap muka. Itupun dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa membuat orang menjadi eksekutor.
"Untuk membuat orang masuk ke dalam jaringan, apalagi mau berkomitmen menjadikan dirinya sebagai bom bunuh diri, itu butuh waktu lama. Bukan sehari atau dua hari. Seperti di Surabaya yang sampai membawa keluarganya, itu butuh waktu empat sampai lima tahun," jelas Ali.
Sebab, untuk mendoktrin seseorang, ada fase-fase yang harus dilewati, diantaranya pembinaan mental, pembinaan ideologi yang tidak bisa secara instan. Semua butuh proses.
"Tidak pernah terjadi, hanya dalam hitungan hari, sudah bisa berkomitmen. Semua butuh waktu yang cukup lama, " terangnya.
Tetapi, generasi 10 tahun lalu sudah berubah polanya sejak kemunculan media sosial, seperti facebook, instagram, telegram dan yang terbaru adalah WhatsApp.
"Saya lihat perkembangan sekarang, paham radikal ini disebar secara random. Sasaran yang paling kena adalah usia anak anak atau remaja," kata Ali melalui ujung teleponnya.
Maraknya ajakan pemahaman radikal melalui media sosial, masih kata Ali, sejak munculnya ISIS global untuk merespon mengajak bergabung ke Suriah.
Pada saat itu, pemahaman radikal disebar ke berbagai media sosial secara random. Hasilnya sangat efektif. Di situlah, data terimput dan tersaring, kemudian ada proses proses kelanjutan diantaranya, pendekatan, perekerutan lalu pembinaan.
"Nah, kalau dulu facebook. Sekarang yang paling efektif adalah whatsapp. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu menutup whatsapp yang bersangkutan? Tentu tidak mudah. Inilah yang menjadi pekerjaan pemerintah untuk menanggulangi itu. Sebab whatsapp lebih bersifat pribadi ketimbang facebook," pungkas Ali Fauzi.(*)
Berita ini ditulis berdasarkan laporan Budi Lentera, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: GP Ansor Duga Virus Radikalisme Telah Menjangkiti Institusi Pemerintah
Bagikan
Berita Terkait
Lamarannya Ditolak, Jadi Motif Mahasiswa Informatikan Bikin Teror ke Sekolah
Kumpulan Ucapan Natal Cocok untuk WhatsApp dan Media Sosial
Presiden AS Trump Tetapkan Ikhwanul Muslimin Organisasi Teroris Global
Kecanduan dan Broken Home, Paket Kombo Anak Rawan Direkrut Jaringan Teroris
Polisi Bongkar Sindikat Teroris ‘ISIS’ Perekrut Anak-Anak, Lakukan Propaganda via Gim Online sampai Medsos
Astaga! Isi Rumah Siswa Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Bikin Merinding, Ada Serbuk yang Diduga Jadi 'Kunci' Balas Dendam Perundungan
Menko Yusril Sebut Pengadilan Militer AS Akan Adili Hambali Bulan Depan
4 Teroris Ditangkap di Sumut dan Sumbar, Diduga Sebarkan Paham Radikal hingga Dukung ISIS
Bikin WA Grup Khusus, 17 Orang Ditangkap Termasuk Anak Bawah Umur Terkait Demo Rusuh Solo
785 Korban Terorisme Telah Terima Kompensasi Dari Negara, Tertinggi Rp 250 Juta