Akhiri Perang, Presiden Ukraina Ajak Putin Bertemu Langsung
Tangkapan layar Presiden Rusia Vladimir Putin saat berbicara tentang otorisasi operasi militer khusus di wilayah Donbass Ukraina. (ANTARA/Russian Pool/via Reuters/pri)
MerahPutih.com - Kabar baik datang dari perkembangan terbaru krisis perang Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menawarkan solusi terkait status independen kawasan Donetsk dan Luhansk ke Rusia untuk mengakhiri invasi yang melanda negaranya sejak 24 Februari silam.
Orang nomor satu Ukraina itu mengajak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertemu terlebih dahulu untuk membicarakan berbagai kemungkinan. Donetsk dan Luhansk sebelumnya mendeklarasikan sebagai bagian dari Rusia, lalu mereka membentuk Republik Luhansk (LPR) dan Republik Donetsk (DPR) sebagai negara independen.
Baca Juga:
Menelisik Akar Budaya Rusia-Ukraina, Kakak Beradik yang Kini Terlibat Perang
"Kami memiliki solusi yang mungkin bisa menyelesaikan ini, sebuah solusi kunci," kata Zelensky, saat wawancara dengan ABC News, seperti dilansir Kantor Berita TASS, Rabu (9/3).
Presiden Zelensky mengakui Luhansk dan Donetsk sebagai negara merdeka, serta Krimea sebagai teritorial Rusia adalah hal sulit bagi Ukraina. Oleh karenanya, Zelensky menegaskan tidak ingin mengambil keputusan gegabah sebelum menjalani diskusi langsung dengan orang nomor satu di Rusia itu.
Dalam tanggapan lain yang ditujukan untuk menenangkan Moskwa itu, Zelensky mengaku terbuka untuk berkompromi. "Yang perlu dilakukan (Rusia) adalah Presiden Putin harus mulai berbicara (dengan kami)," imbuh Presiden Ukraina, dikutip dari AFP.
Untuk diketahui, Rusia menggunakan alasan membela pernyataan kemerdekaan Donetsk dan Luhansk sebagai dasar melancarkan operasi militer ke Ukraina. Dalih Moskwa lainnya melancakan invasi juga dipicu kekhawatiran Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
NATO lahir pada awal Perang Dingin untuk melindungi Eropa dari Uni Soviet. Belakangan, Presiden Vladimir Putin geram karena NATO terus memperluas cengkeramannya ke negara-negara sekitar Rusia, termasuk Ukraina.
Baca Juga:
Mengenal NRF, Pasukan yang Dikerahkan NATO Mengantisipasi Invasi Rusia
Moskwa menganggap perluasan wilayah NATO ini sebagai ancaman, terutama karena unsur-unsur militer aliansi Barat ini berada tepat di depan pintu negaranya.
Terbaru, Ukraina lewat Presiden Zelensky menyatakan negaranya sudah tidak lagi memaksakan diri untuk bergabung dengan NATO. "Saya sudah meredam diri terkait isu ini sejak lama, setelah kami memahami bahwa NATO tak siap menerima Ukraina," tutur dia, dilansir AFP. (*)
Baca Juga:
Sebut NATO Takut Rusia, Presiden Ukraina Tak Sudi Lagi Berlutut Memohon Gabung
Bagikan
Wisnu Cipto
Berita Terkait
Istri Mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso 'Eyang Meri' Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Prabowo Wanti-wanti Ancaman Perang Dunia III, Indonesia Tetap Terkena Dampaknya
Bahar bin Smith Tersangka Kasus Pemukulan Banser, Dijerat Pasal Berlapis
Susul Dirut BEI, Mahendra Siregar dan Sejumlah Petinggi OJK Mengundurkan Diri
Indonesia Pesta Gol ke Gawang Korsel 5-0 di Laga Pembuka Piala Asia Futsal 2026
Gara-Gara Utang BP Tega Bunuh Ibu Kandung, Jasad Dibakar Dibuang di Jalan
Pesawat Smart Air Jatuh di Perairan Nabire, Seluruh Penumpang Dilaporkan Selamat
Gempa M 5,7 Guncang Pacitan, Getaran Terasa hingga Bali
Hampir Semua Rumah 2 Kampung Tertimbun Longsor Cisarua: 8 Jasad Ditemukan 82 Orang Hilang
Gerbang Rafah Pintu Masuk Gaza dari Mesir Kembali Dibuka 2 Arah