Akademisi: Bangsa Indonesia Harus Perkuat Nilai Pancasila dan Ramadan

Luhung SaptoLuhung Sapto - Rabu, 07 Juni 2017
Akademisi: Bangsa Indonesia Harus Perkuat Nilai Pancasila dan Ramadan

Ledakan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5). (Ist)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Kolaborasi nilai-nilai Pancasila dan bulan Ramadan akan sangat dahsyat untuk memerangi paham radikal terorisme. Karena itu langkah pemerintah mencanangkan Pekan Pancasila yang kebetulan jatuh bersamaan di bulan Ramadan dinilai tepat, untuk kembali memperkuat nilai kebangsaan dan keagamaan dalam menangkal ancaman terorisme dan segala bentuk intoleransi lainnya.

"Bulan Ramadan ini menjadi momentum terbaik untuk kembali mengingatkan anak bangsa tentang kekuatan nilai Pancasila dalam menyatukan berbagai keragaman yang ada di Indonesia. Apalagi faktanya kita memang tengah menghadapi ancaman nyata terorisme yang mengatasnamakan agama," kata Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Dr. Mohammad Kemal Dermawan, M.Si, Senin (6/6).

Menurut Kemal, bangsa Indonesia harus memperkuat pemahaman nilai Pancasila dan Ramadan yang diajarkan Islam, khususnya untuk meng-counter nilai-nilai agama yang diputarbalikkan oleh kelompok radikal. Masalah ini tidak bisa diserahkan ke pemerintah saja, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam mencegah radikalisme dan terorisme ini.

Dari unsur agama, kiai, ulama, dan guru agama harus terus menebarkan pesan damai untuk menangkal radikalisme. Bukan justru menambah kisruh. Begitu juga aparat penegak hukum juga harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka tahu mana yang berpihak ke hukum atau berpihak ke radikal. Karena kadang-kadang hal tersebut malah dihambat pada persepsi perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) yang salah,

“Misalnya tidak memberikan perlindungan terhadap pendapat yang berbeda. Padahal pendapatnya tidak sembarang pendapat yang harus dilindungi. Harus ditegakkan pula kalau pendapatnya menghasut, pendapatnya radikal, pendapat yang mungkin subversif ya harus ditindak,” ujar pria yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI ini.

Juga di sekolah sekolah, menurut Kemal juga harus diberikan bagaimana memberikan suatu nuansa yang tidak radikal terhadap murid-muridnya dengan memberikan contoh-contoh toleransi antar sesama dengan berbagai perbedaan seperti perbedaan suku, agama, ras dan budaya. Ini penting agar ada rasa saling melindungi antar sesama manusia dan agar bangsa Indonesia selalu bersatu agar tidak terpecah.

Kemal menegaskan, masyarakat juga harus mendukung jihad yang damai yang juga disertai penguatan nilai-nilai kebangsaan yaitu Pancasila dan nilai sosial Bhinneka Tunggal Ika. “Karena kelompok radikal itu sangat tidak memahami makna jihad sesungguhnya dan mereka tidak mengakui terhadap keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa kita yang cinta damai dan toleran seperti ini,” ujarnya.

Melihat kejadian bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu beberapa waktu lalu, Kemal mengingatkan bahwa ancaman terorisme di bulan Ramadan ini dirasanya masih cukup besar. Tentu semua harus tetap waspada karena masalah terorisme ini tidak bisa diduga kapan kejadiannya.

“Seperti di Filipina dan bahkan di Inggris. Meski mereka memiliki sistem keamanan yang ketat, tapi masih masih kecolongan oleh aksi terorisme. Bisa saja pada saat kita merasa resikonya kecil ternyata menjadi meledak. Jadi yang namanya terorisme itu selalu menjadi resiko yang tinggi. Apalagi jika ada momen-momen tertentu, itu yang harus menjadi pertimbangan kita semua,” tuturnya.

#Bulan Ramadan #Terorisme
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Tradisi
Mengenal Tradisi Jaburan, Budaya Berbagi Makanan saat Ramadan di Tanah Jawa
Jaburan adalah tradisi berbagi makanan saat Ramadan di Jawa. Simak asal-usul, makna, dan nilai sedekah di balik tradisi ini.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 24 Februari 2026
Mengenal Tradisi Jaburan, Budaya Berbagi Makanan saat Ramadan di Tanah Jawa
Indonesia
MUI ‘Haramkan’ Sweeping Tempat Makan yang Buka Siang Hari saat Bulan Ramadan
“Pentingnya sikap saling menghormati antarumat beragama, sehingga tidak diperlukan tindakan sepihak,” kata Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas.
Frengky Aruan - Rabu, 18 Februari 2026
MUI ‘Haramkan’ Sweeping Tempat Makan yang Buka Siang Hari saat Bulan Ramadan
Bagikan