AI Temukan Elemen Baru untuk Kurangi Penggunaan Lithium pada Baterai
Elemen baru untuk baterai berkelanjutan telah ditemukan oleh AI. (Foto: Pixabay/geralt)
ELEMEN atau zat baru yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi penggunaan lithium pada baterai, telah ditemukan oleh artificial intelligence (AI). Microsoft dan Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), berhasil menemukan elemen baru yang dapat menggantikan penggunaan elemen litium sampai dengan 70 persen.
Litium sering disebut sebagai 'emas putih' karena nilai pasarnya dan warnanya yang keperakan. Ini adalah salah satu komponen kunci dalam baterai isi ulang (baterai litium-ion).
Dilansir BBC, Badan Energi Internasional menyebut permintaan litium pada 2025 dapat mengalami krisis karena permintaan yang sangat tinggi untuk baterai mobil elektrik (EV).
Permintaan baterai lithium-ion juga diperkirakan akan meningkat hingga sepuluh kali lipat pada 2030, sehingga produsen terus membangun pabrik baterai untuk mengimbanginya.
Baca juga:
Hyundai Mulai Pembangunan Pabrik Sistem Baterai di Indonesia
Peneliti dari Microsoft berhasil menerapkan teknologi AI dalam superkomputer yang mereka miliki, untuk mengerucutkan 32 juta bahan material anorganik menjadi 18 bahan material anorganik yang berpotensi menggantikan litium dalam waktu kurang dari seminggu.
Menurut para peneliti, proses pengerucutan menggunakan metode penelitian laboratorium tradisional mungkin dapat memakan waktu lebih dari dua dekade untuk mendapatkan hasil yang sama.
Kabarnya, peneliti dari Microsoft juga sudah berhasil membuat prototype baterai yang dapat berfungsi menggunakan elemen baru ini hanya dalam kurun waktu sembilan bulan.
Wakil presiden eksekutif Microsoft, Jason Zander, mengatakan bahwa salah satu misi mereka adalah 'mempersingkat' 250 tahun penemuan ilmiah menjadi hanya 25 tahun. “Kami pikir teknologi seperti ini akan membantu kita melakukan hal tersebut. Menurut saya, inilah cara yang akan dilakukan oleh ilmu pengetahuan jenis ini di masa depan,” kata Zander.
Baca juga:
Baterai Pasir, Solusi untuk Pecahkan Masalah Besar Energi Hijau
Dr Nuria Tapia-Ruiz, pimpinan tim peneliti baterai di departemen kimia di Imperial College London, mengatakan bahan apa pun yang memungkinkan penggunaan litium lebih sedikit dan kemampuan penyimpanan energi baik adalah 'cawan suci' dalam industri baterai litium-ion.
Elemen baru yang detemukan oleh AI tersebut untuk saat ini disebut dengan N2116. Adalah elektrolit padat yang telah diuji oleh para ilmuwan, mengubahnya dari bahan mentah menjadi prototipe kerja (baterai).
Baterai tersebut berpotensi menjadi solusi penyimpanan energi berkelanjutan, karena baterai padat lebih aman dibandingkan baterai lithium tradisional berbentuk cair atau gel.
Dalam waktu dekat dan dengan elemen baru, baterai lithium yang lebih padat menjanjikan pengisian energi yang lebih cepat dengan ribuan siklus pengisian daya. (trs)
Baca juga:
Daur Ulang Baterai Jadi Tantangan Tersendiri untuk Kendaraan Listrik
Bagikan
Ananda Dimas Prasetya
Berita Terkait
Siri iOS 27: Si Chatbot Sakti Apple yang Bikin ChatGPT Kelihatan Jadul dan Kuno
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Perpres Akan Jadi Rujukan Hukum dan Etika Inovasi AI di Sektor Telekomunikasi
Sentuhan AI Bikin Lagu 'Mari Bercinta' Terdengar Seperti Lagu Korea, Simak Liriknya
Viral! Lagu 'Bang Jono' Zaskia Gotik Hadir dalam Versi Bahasa Korea Berkat AI
Grok AI Belum Punya Filter Pornografi, DPR Tuntut Langkah Proaktif Kemkomdigi
Manipulasi Gambar Jadi Konten Porno, DPR Dukung Komdigi Blokir Grok AI
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan