Menteri Era Gus Dur: Papua Bisa Ulangi Kutukan Sejarah Lepasnya Timor Timur

Andika PratamaAndika Pratama - Kamis, 29 Agustus 2019
Menteri Era Gus Dur: Papua Bisa Ulangi Kutukan Sejarah Lepasnya Timor Timur

Mahasiswa Papua demo di Istana Negara. Foto: MP/Kanu

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Akademisi dari President University, Dr. Muhammad A.S. Hikam memberikan atensi kepada seluruh stakeholder di Indonesia untuk kembali mengingat mengapa ada sebuah provinsi yang bernama Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berubah menjadi negara bernama Timor Leste.

Apalagi, kata Hikam, sampai sejauh ini belum ada kajian yang lebih komprehensif terkait mengapa Provinsi Timor Timur itu melepaskan diri dari Indonesia pada tahun 1999 lalu. Jika merujuk statemen mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal bahkan di seluruh lembaga negara termasuk Lemhanas hingga Badan Intelijen Negara (BIN) belum ditemukan kajian khusus tersebut.

Baca Juga

Aksi Mahasiswa Papua Bawa Bendera Bintang Kejora Masuk Pidana Makar

“Menyedihkan sekali jika benar kata mantan Wamenlu, Dino P. Jalal (DPJ) bahwa belum pernah ada kajian komprehensif mengapa Timor Leste lepas dari NKRI pada 1999. Padahal peristiwa besar tersebut bisa menjadi pelajaran sejarah yang penting bagi bangsa,” tulis Hikam dalam keterangannya, Kamis (29/8).

Akademisi dari President University, Dr. Muhammad A.S. Hikam
Akademisi dari President University, Dr. Muhammad A.S. Hikam. Foto: Net

Hikam kembali mengingatkan agar bangsa Indonesia belajar dari masa lalu kelam lepasnya Timor Timur dari NKRI. Sehingga kondisi itu tidak terulang di kemudian hari dan ada lagi wilayah NKRI yang lepas atau melepaskan diri dari pelukan ibu pertiwi.

“So, belajarlah dari sejarah lepasnya Timtim (Timor Timur), dan jangan sampai bangsa ini terkutuk. Semoga kita mau belajar dari sejarah. Amin,” tutur mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) era Presiden Gus Dur itu.

Hikam juga mengutip sebuah statemen dari seorang filsuf asal Spanyol-Amerika, Jorge Agustín Nicolás de Santayana alias George Santayana, bahwa siapapun akan mengulang sejarah kelam manakala ia tak mau belajar dari sejarah yang sama. Dan kutukan untuk mengulangnya akan menerpa di kemudian waktu.

Baca Juga

Saran Mahfud MD kepada Jokowi untuk Selesaikan Konflik Papua

“Barang siapa tak mau belajar dari sejarah, ia akan dikutuk untuk mengulanginya. Saya sama sekali tak berharap bahkan tak mau bermimpi buruk bahwa kutukan sejarah akan terjadi kepada NKRI dalam masalah Papua,” ujarnya.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kutukan perulangan sejarah itu bisa terjadi terhadap Papua. Hikam memberikan saran agar seluruh stakeholder baik pemerintah maupun aparat keamanan dan penegak hukum memperhatikan serius tentang persoalan keadilan dan ancaman disharmonisasi bangsa.

Apalagi jika menilik kondisi Papua saat ini, mereka tengah dihantam persoalan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), bagaimana ketidakadilan sektor ekonomi yang masih terjadi di beberapa wilayah, bahkan yang tengah hangat saat ini adalah ketimpangan sosial-budaya yang membuat konflik besar di Papua dan Papua barat dipicu dari sentimen rasial di Jawa Timur beberapa waktu yang lalu.

“Jangan anggap enteng bahaya dari pelanggaran HAM, ketidakadilan ekonomi dan disharmoni sosial-budaya,” tutur Hikam.

Mahasiswa Papua demo di Istana Negara. Foto: MP/Kanu
Mahasiswa Papua demo di Istana Negara. Foto: MP/Kanu

Mantan menteri di era Almarhum Gus Dur itu juga meminta agar persoalan Papua hanya dijadikan obrolan warung kopi semata sementara isu yang sebenarnya tengah menimpa mereka tidak terangkat di permukaan sehingga penanganannya pun tidak maksimal dilakukan.

“Janganlah suka menutup-nutupi masalah dan hanya jadi bahan omongan belaka,” imbuhnya.

Baca Juga

Demo di Depan Istana, Mahasiswa Papua Teriakan 'Papua Merdeka Papua Merdeka'

Lebih lanjut, Hikam pun meminta agar sejarah budaya bangsa Indonesia kembali diperkuat dan dipelajari di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia tanpa terkecuali, sehingga bangsa Indonesia dan generasi peneruh benar-benar memahami apa itu perbedaan dan bagaimana mereka bisa menghormati dan merawat budaya bangsanya sendiri.

“Kaji, teliti, dan gali secara sistemis agar menjadi bagian dari ingatan sejarah bangsa yang bisa diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan kita,” tegasnya. (Knu)

#Papua #Muhammad AS Hikam
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Personel TNI disebut mendapat serangan saat menjalankan operasi tersebut hingga terjadi aksi saling tembak.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Indonesia
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Saat peristiwa kontak senjata terjadi, Hermanus Hogajau-lah yang pertama kali menghujani Pasukan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Indonesia
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Bos OPM Egianus Kogoya komplain serangan pesawat Super Tucano di Nduga. Panglima TNI Agus Subiyanto tegaskan separatis wajib ditumpas habis!
Wisnu Cipto - Senin, 28 September 2026
Bos OPM Komplain Serangan Udara, Panglima TNI: Separatis Harus Ditumpas
Indonesia
Panglima TNI Senang 8 Senjata Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Delapan pucuk senjata yang disebut Agus termasuk jenis SS1 V1 yang sebelumnya direbut OPM dari satuan TNI.
Alwan Ridha Ramdani - Minggu, 27 September 2026
Panglima TNI  Senang 8 Senjata  Disita Dari OPM, Termasuk SS1 V1
Indonesia
4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Personel TNI juga menyita sejumlah barang dari lokasi, antara lain satu pucuk SS2 V1, satu senjata api laras panjang dengan alat bidik Trijicon
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
 4 Anggota OPM Tewas Dalam Kontak Senjata di Intan Jaya Papua Tengah
Indonesia
Kekerasan KKB Terus Berulang, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat
Pemerintah didesak untuk memperkuat perlindungan terhadap warga sipil di Papua.
Yusuf Abdillah - Minggu, 20 September 2026
Kekerasan KKB Terus Berulang, DPR Desak Pemerintah Gerak Cepat
Indonesia
Penculikan Warga Oleh KKB Papua, 7 Korban masih Dicari
Aparat bersama tokoh masyarakat terus melakukan upaya untuk menemukan dan mengevakuasi korban lainnya.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
Penculikan Warga Oleh KKB Papua, 7 Korban masih Dicari
Indonesia
Penyanderaan KKB Papua, 1 Korban Ditemukan Meninggal dengan Tubuh Kurus
Yosina ditemukan bersama Demerina Uamang, 23, salah satu dari sembilan perempuan yang sebelumnya menjadi korban penculikan pada 17 Agustus 2026.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
Penyanderaan KKB Papua, 1 Korban Ditemukan Meninggal dengan Tubuh Kurus
Indonesia
20 Hari Bertahan di Hutan, Korban Penculikan KKB Akhirnya Dievakuasi ke Timika
Korban ditemukan dalam kondisi lemah di Kampung Bela 1, Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
20 Hari Bertahan di Hutan, Korban Penculikan KKB Akhirnya Dievakuasi ke Timika
Indonesia
Alasan Mendagri Tito Rumuskan Ulang Definisi Orang Asli Papua
Hingga saat ini masih terjadi perbedaan pandangan di tingkat daerah mengenai kriteria Orang Asli Papua dalam UU Otsus Papua.
Wisnu Cipto - Senin, 14 September 2026
Alasan Mendagri Tito Rumuskan Ulang Definisi Orang Asli Papua
Bagikan