7 Kali Jakarta Terendam Banjir

Rendy NugrohoRendy Nugroho - Selasa, 10 Februari 2015
7 Kali Jakarta Terendam Banjir

Foto: Antarafoto

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Curah hujan deras selama dua hari berturut-turut menyababkan terjadinya banjir di ibukota Jakarta. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri menyebutkan setidaknya ada 93 titik ibukota terendam banjir. Ketinggian banjir rata-rata 30 hingga 50 centimeter.

Dari 5 titik wilayah di ibukota Jakarta Pusat menjadi wilayah paling parah dengan 35 titik, kemudian disusul Jakarta Barat 28 titik, Jakarta Utara 8 titik, selanjutnya Jakarta Timur 8 titik dan Jakarta Selatan 5 titik.

Bahkan dibeberapa derah semisal di kawasan Sarinah menuju jalan Wahid Hasyim di kawasan Jakarta Pusat, ketinggian air mencapai 1 meter. Sebaliknya di kawasan Jakarta Utara ketinggian air mencapai 80 hingga 100 centimeter.

Banjir yang melanda ibukota bukanlah pertama kali terjadi. Sejak era kolonial Jakarta yang dahulu disebut Batavia sudah kerap langganan banjir.

Berdasarkan kajian Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), sebuah studi persiapan untuk membuat dam raksasa disebutkan banjir di Jakarta yang terjadi sejak masa penjajahan. Banjir pertama terjadi tahun 1621, diikuti tahun berikutnya tahun 1654 dan 1876. Akibat banjir ini pemerintah Belanda tahun 1918 membangun bendungan yakni Bendungan Hilir, Bendungan Jago dan Bendungan Udik.

Berdasarkan data yang dihimpun redaksi merahputih.com, setidaknya Jakarat sudah 7 kali diterjang banjir besar? Simak ulasannya berikut ini.

1. Banjir tahun 1976

Februarai tahun 1976 Jakarta diterjang banjir dalam skala besar. Banjir tersebut melumpuhkan denyut nadi dan perokonomian Jakarta. Pada tahun tersebut sebanyak 200 ribu jiwa diungsikan. Saat itu Jakarta masih dipimpin oleh Gubernur ALi Sadikin.

Sebagai soerang gubernur visoner, kala itu Ali berkeinginan keras mengatasi persoalan banjir yang melanda ibukota. Namun sayang untuk menghalau banjir jumlah dana yang harusi dikeluarkan saat itu 800 Juta Dollar AS atau setara dengan Rp 500 miliar.

Dari jumlah dana Rp 500 miliar hanya Rp 4,2 miliar saja dana dikucurkan untuk mengurangi banjir. Ali mulai bergerak dengan melakukan normalisasi sungai, waduk di Cakung. Kemudian ia juga memperbanyak taman dan ruang terbuka hijau (RTH) dengan tujuan menyerap air.

Tetapi hasilnya tidak optimal, Jakarta tetap ditenggelamkan banjir karena banyak warga Jakarta yang bandel tetap bermukim di daerah resapan air. Akibatnya 2 juta orang direndam banjir di era pemerintahan Ali Sadikin pada tahun 1972.

2. Banjir pada tahun 1979

Saat itu Jakarta dipimpin oleh Letjen TNI Tjokropanolo. Banjir yang terjadi pada tahun tersebut dipicu dari derasnya curah hujan dan banjir kiriman dari beberapa daerah penyangga ibukota. Kala itu banjir menggenangi 1.100 hektare.

Kala itu Tjokropanolo yang akrab disapa Bang Nolly segera meneruskan langkah Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pembangunan waduk, normalisasi kali disepanjang Jakarta juga terus dilakukan. Dana yang digunakan untuk pembangunan berasal dari dana hasil judi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) alias Undian Harapan yang kemudian dihentikan pada 1994.

3. Banjir pada tahun 1984

Pada tahun 1984 sebanyak 291 Rukun Tetangga (RT) dialiran sungan Grogol terendam. Dampaknya terasa di Jakarta Timur, Barat dan Pusat, jumlah total korban tercatat 8.596 kepala keluarga.

4. Banjir pada tahun 1996

Pada tanggal 6 hingga 9 Januari 1996 Jakarta kembali terendam banjir. Banjir yang melanda Jakarta kala itu disebabkan hujan selama dua hari berturut-turut. Sebulan kemudian pada tanggal 9 hingga 13 Februari Jakarta kembali direndam banjir. Curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut menjadi penyebab Jakarta terendam setinggi 7 meter. Akibat banjir, 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban mencapai 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan mencapai USD 435 juta.

5. Banjir pada tahun 1997, 2002

Selama dipimpin Letjen (Purn) TNI Sutiyoso Jakarta tiga kali direndam banjir. Pada tahun 1997, hujan deras yang terjadi selama dua hari berturut-turut menjadi pemicu terendamnya 4 kelurahan di Jakarta Timur. Banjir semakin parah ketika Sungai Cipinang meluap. Akibatnya sebanyak 754 rumah dan 2.640 rumah teredam banjir.

Lima tahun kemudian tepatnya pada tahun awal Februari tahun 2002. Kerugian akibat banjir mencapai Rp 9 triliun.

6. Banjir pada tahun 2007

Banjir pada tahun 2007 silam merendam lebih dari 60 persen wilayah ibukota. Banjir dipicu hujan lebat yang mengguyur ibukota selama dua hari berturut-turut (1 hingga 2 Februari 2007). Dibeberapa titik, Wilayah DKI Jakarta terendam air dengan kedalaman 5 meter. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan Rp 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

7. Banjir pada tahun 2013

Banjir besar di Jakarta yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada Januari hingga Februari 2013 lalu. Bencana itu menyebabkan 20 korban meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Banjir ini terjadi pada era Gubernur DKI Joko Widodo. Waktu itu, banjir sampai melumpuhkan pusat kota.

Saat itu banjir hampir menerjang dan merendam jalan-jalan protokol ibukota. Kawasan Sudirman dan Thamrin juga tidak luput dari genangan banjir. Diperkirakan banjir menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun.

Pada tahun 2013 silam banjir juga menerjang Istana Kenegaraaan. Kala itu komplek istana negara teredam air dengan ketinggian 30 centimeter. (bhd)

#BNPB #Banjir Jakarta #Banjir
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
BNPB Ungkap Aktivitas Gempa Susulan di Flores Mulai Menurun, Masih Bisa Terjadi 3-4 Minggu
Gempa susulan di Flores kini mulai menurun. Namun, BNPB tetap mengingatkan warga agar tetap waspada.
Soffi Amira - 1 jam, 24 menit lalu
BNPB Ungkap Aktivitas Gempa Susulan di Flores Mulai Menurun, Masih Bisa Terjadi 3-4 Minggu
Indonesia
Pemerintah Gabungkan Pengendalian Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia
Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian dan informasi yang jelas kepada masyarakat di tengah kekhawatiran atas dampak karhutla.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Pemerintah Gabungkan Pengendalian Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia
Indonesia
BNPB Intensifkan OMC untuk Atasi Karhutla di Kalimantan, 30 Helikopter Disiagakan
BNPB kembali intensifkan operasi modifikasi cuaca atau OMC untuk menangani karhutla di Kalimantan. Sebanyak 30 helikopter disiagakan untuk water bombing dan patroli udara.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 23 Agustus 2026
BNPB Intensifkan OMC untuk Atasi Karhutla di Kalimantan, 30 Helikopter Disiagakan
Indonesia
53.971 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT, Ini Peta Sebarannya di 7 Kabupaten
BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat gempa 7,7 SR di NTT, terdiri atas 19.006 rusak berat, 11.777 rusak sedang, dan 23.188 rusak ringan.
Wisnu Cipto - Minggu, 23 Agustus 2026
53.971 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT, Ini Peta Sebarannya di 7 Kabupaten
Indonesia
Pemerintah Klaim Penanganan Warga Terdampak Gempa sudah Maksimal, Akses Kawasan Terparah Membaik
Penanganan akan terus dikawal hingga kehidupan masyarakat pulih seperti sebelum gempa terjadi.
Dwi Astarini - Sabtu, 22 Agustus 2026
Pemerintah Klaim Penanganan Warga Terdampak Gempa sudah Maksimal, Akses Kawasan Terparah Membaik
Indonesia
Jumlah Korban Tewas Gempa NTT Capai 83 Orang, Terbaru dari Nagekeo dan Ngada
Bertambahh 8 jiwa dengan rincian bahwa yang meninggal ialah akibat dampak tidak langsung dari gempa.
Dwi Astarini - Sabtu, 22 Agustus 2026
Jumlah Korban Tewas Gempa NTT Capai 83 Orang, Terbaru dari Nagekeo dan Ngada
Indonesia
Korban Gempa NTT Kini Bertambah Jadi 83 Orang, 110.785 Warga Mengungsi
Korban gempa NTT kini masih terus bertambah. Kini, ada 83 orang meninggal dunia dan 110.875 jiwa mengungsi.
Soffi Amira - Sabtu, 22 Agustus 2026
Korban Gempa NTT Kini Bertambah Jadi 83 Orang, 110.785 Warga Mengungsi
Indonesia
Pengungsi Gempa NTT Tembus 110 Ribu, Pemerintah Percepat Penanganan dan Distribusi Bantuan
Jumlah tersebut meningkat 18.050 orang dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 92.735 pengungsi.
Dwi Astarini - Sabtu, 22 Agustus 2026
Pengungsi Gempa NTT Tembus 110 Ribu, Pemerintah Percepat Penanganan dan Distribusi Bantuan
Indonesia
BNPB dan BMKG Cari Potensi Awan Hujan Buat OMC Padamkan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan
Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 21 Agustus 2026
BNPB dan BMKG Cari Potensi Awan Hujan Buat OMC Padamkan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan
Indonesia
Gempa Susulan Picu Ancaman Longsor, Alat Berat Disiagakan Jaga Jalur Logistik NTT
Alat berat tetap disiagakan untuk mengantisipasi jalan kembali tertutup longsoran maupun material batu.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Gempa Susulan Picu Ancaman Longsor, Alat Berat Disiagakan Jaga Jalur Logistik NTT
Bagikan