Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Ziad Abu Ein: Profil Menteri Penentang Okupasi Zionis

Eddy Flo - Jumat, 12 Desember 2014
>MerahPutih Internasional - Ziad Abu Ein meninggal begitu tragis di usia 55 tahun. Politisi dan aktivis Palestina itu menghembuskan nafasnya di tengah perjuangannya menentang pendudukan Israel atas Palestina di wilayah Ramallah. Kematian itu menggenapi semua baktinya kepada negeri yang sangat dicintainya. Tak heran, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebutkan sebagai “martir” bagi rakyat di wilayah tepi barat itu. Kontrasnya, Abu Ein disiksa dan dianiaya sampai tewas, ketika dirinya bersama sekelompok orang melakukan protes dengan menanam pohon Zaitun di kawasan yang menjadi tempat tinggal kaumnya.

> 

> 

>

>Tangisan warga Palestina mengiringi pemakaman Abu Ein

> 

>Abu Ein tercatat lahir pada tahun 1959. Ayah empat anak ini, mengawali gerakan protesnya dengan menjadi Head of Anti Wall and Settlement Commision atau semacam lembaga yang bergerak di bidang penolakan pembangunan perbatasan dan tempat tinggal di wilayah Palestina. Berdasarkan catatan Al Jazeera, Ia menghabiskan waktu hampir 13 tahun mendekam di sejumlah penjara di Israel dan Amerika Serikat.

> 

>Pada tahun 2002, dua tahun sebelum pemimpin kharismatik Palestina, Yasser Arafat wafat, Abu Ein menjadi tahanan rumah setelah gerakan Intifada untuk kedua kalinya melakukan percobaan kudeta. Sebelumnya, ia pernah menjadi direktur penasihat kelompok Fatah untuk urusan luar negeri yang berkedudukan di West Bank sejak tahun 1994.

> 

>Sebelum tewas dalam serangan brutal tentara Zionis, Abu Ein menjabat sebagai wakil menteri urusan tahanan, Palestina. Ia adalah orang Palestina pertama yang dilarang Amerika Serikat mengunjungi Israel. Larangan itu berlaku sejak tahun 1981. Selama hidupnya, Abu aktif dalam banyak organisasi yang mendukung kemandirian Palestina, seperti kelompok dagang dan Palestinian Industrialists Union tahun 1991.

> 

>Tanggal 10 Desember menjadi hari terakhir Abu Ein tampil bersuara membela kaumnya. Namun semangat dan aspirasi yang ditinggalkan tetap hidup dan selalu menyala dalam diri rakyat Palestina dan dunia. Buktinya, saat pemakamannya Rabu 11/12 ribuan pelayat datang mengantarnya dan sejumlah penghormatan terakhir ditujukan kepadanya, mulai dari presiden, pemimpin dunia hingga para pejuang kaum yang senasib dengannya.

> 

> 

Baca Artikel Asli