MerahPutih.com - Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menyebutkan, Indonesia akan mengirim sekitar 8 ribu pasukan ke Jalur Gaza Palestina. Hal itu menjadi bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF).
Pasukan ISF adalah bagian dari upaya Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump, untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza.
Prasetyo mengatakan, hingga kini Indonesia masih mempersiapkan skema pengiriman pasukan, termasuk komposisi personel dari masing-masing negara yang terlibat.
Menurutnya, ada sekitar 20 ribu personel dari berbagai negara yang akan dikerahkan ke Gaza sebagai bagian dari ISF.
Baca juga:
Prabowo Belum Pasti Hadir KTT Pertama BoP Gaza, Jika Berangkat Sekalian Lobi Tarif AS
Saat ini, Indonesia masih berada pada tahap persiapan dan menunggu adanya kesepakatan internasional yang menjadi dasar pengiriman pasukan perdamaian.
Prasetyo menambahkan, keterlibatan Indonesia dalam misi tersebut merupakan bagian dari komitmen bangsa dalam mendukung Palestina, baik melalui jalur politik maupun kemanusiaan.
Selain menegaskan posisi Indonesia terkait pengakuan kemerdekaan Palestina, pemerintah juga berupaya mendorong masuknya bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza yang terdampak konflik.
Melalui kerangka itu, Indonesia bersama tujuh negara Muslim lainnya bergabung dalam Board of Peace sebagai forum kerja sama internasional.
Baca juga:
Krisis Air Gaza Makin Parah, Sehari Dijatah 6.000 Meter Kubik untuk Seluruh Kota
Kehadiran pasukan perdamaian dan mekanisme kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan eskalasi konflik serta membuka akses bantuan, termasuk bantuan pangan, ke wilayah Gaza.
Sementara itu, Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengungkapkan, peran Indonesia juga bersifat tidak menyerang, tidak menyinggung, dan tidak agresif.
"Yang dapat kami sampaikan, pendekatan Indonesia akan menitikberatkan pada perlindungan warga sipil, dukungan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza, serta peran yang terdefinisi jelas dan bersifat non-ofensif," kata Nabyl, saat dikonfirmasi, Rabu (11/2).
Selain itu, partisipasi Indonesia juga sejalan dengan misi pemeliharaan perdamaian.
"Partisipasi pasukan Indonesia juga akan konsisten dengan prinsip-prinsip misi pemeliharaan perdamaian yang telah lama Indonesia pegang," kata dia. (knu)

